KOSPI Merosot Tajam 8,4% Usai Ketegangan Iran-Israel, Circuit Breaker Aktifkan Henti Perdagangan
KOSPI Merosot Tajam 8,4% Usai Ketegangan Iran-Israel, Circuit Breaker Aktifkan Henti Perdagangan

KOSPI Merosot Tajam 8,4% Usai Ketegangan Iran-Israel, Circuit Breaker Aktifkan Henti Perdagangan

LintasWarganet.com – 08 Juni 2026 | Pasar saham Asia mengalami penurunan signifikan pada Senin, 8 Juni 2026, dengan indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, memimpin koreksi terburuk dalam beberapa bulan terakhir. KOSPI tercatat turun 8,4%, hampir menyentuh batas circuit breaker yang memaksa penghentian sementara perdagangan pada sesi pagi.

Penyebab Penurunan

Gejolak geopolitik menjadi pemicu utama melemahnya sentimen investor. Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke wilayah Israel, menimbulkan kekhawatiran akan pelanggaran gencatan senjata yang masih rapuh. Aksi tersebut memicu aksi jual di pasar global, termasuk kontrak berjangka saham di Amerika Serikat yang sebelumnya mengalami penurunan tajam pada pekan sebelumnya. Kekhawatiran akan eskalasi konflik menambah ketidakpastian, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada rantai pasokan internasional.

Dampak di Bursa Asia

Selain KOSPI, indeks saham Jepang, Nikkei 225, juga mengalami penurunan 3,4% pada hari yang sama. Di pasar domestik Korea Selatan, sektor teknologi dan industri manufaktur menjadi yang paling terpukul, dengan saham-saham perusahaan semikonduktor serta produsen otomotif turun di atas 5% dalam perdagangan awal. Kontrak berjangka indeks KOSPI pada pukul 02.00 UTC tercatat melemah lebih dari 8%, mengindikasikan tekanan berkelanjutan meski pasar sudah ditutup.

Dalam upaya menstabilkan pasar, Korea Exchange (KRX) mengaktifkan mekanisme circuit breaker pada level 9% penurunan, menghentikan perdagangan selama 30 menit. Mekanisme ini pertama kali diterapkan pada tahun 2020 dan dirancang untuk memberi waktu bagi pelaku pasar menilai ulang posisi mereka tanpa terjadinya penurunan yang berlarut-larut.

Reaksi dan Analisis

Para analis pasar menilai penurunan ini sebagai kombinasi antara faktor eksternal (geopolitik) dan internal (kondisi makroekonomi Korea Selatan yang sedang menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar won yang melemah). “Kita berada di titik di mana sentimen risiko sangat sensitif. Setiap perkembangan negatif di Timur Tengah dapat dengan cepat memicu penurunan lebih dalam,” ujar seorang ekonom senior di sebuah bank investasi terkemuka.

Beberapa analis memperkirakan KOSPI dapat kembali menguat jika pemerintah Korea Selatan mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih akomodatif atau jika ada pernyataan resmi yang menenangkan situasi di Timur Tengah. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa volatilitas dapat tetap tinggi selama minggu-minggu ke depan.

Latar Belakang Historis

  • KOSPI telah mengalami koreksi serupa pada tahun 2022 ketika inflasi global memuncak.
  • Circuit breaker pertama kali diaktifkan pada Maret 2020 selama pandemi COVID-19, menurunkan perdagangan lebih dari 7% dalam satu sesi.
  • Rata-rata penurunan tahunan KOSPI selama lima tahun terakhir berkisar antara 2% hingga 5%, menjadikan penurunan 8,4% ini sebagai outlier yang signifikan.

Investor domestik dan asing kini menunggu perkembangan diplomatik antara Iran dan Israel serta pernyataan resmi dari Bank of Korea mengenai kebijakan suku bunga. Sementara itu, perusahaan-perusahaan ekspor utama seperti Samsung dan Hyundai berusaha menyesuaikan proyeksi penjualan mereka mengingat potensi gangguan rantai pasokan.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, para pelaku pasar disarankan untuk tetap memperhatikan indikator geopolitik serta kebijakan moneter dalam mengelola portofolio mereka. KOSPI diperkirakan akan tetap berada di zona volatil hingga situasi internasional menunjukkan stabilitas yang lebih jelas.