Telkom di Persimpangan: Dari Upaya Pencurian Kabel hingga Gerakan Hijau Besar dan Tantangan Pasar Saham
Telkom di Persimpangan: Dari Upaya Pencurian Kabel hingga Gerakan Hijau Besar dan Tantangan Pasar Saham

Telkom di Persimpangan: Dari Upaya Pencurian Kabel hingga Gerakan Hijau Besar dan Tantangan Pasar Saham

LintasWarganet.com – 21 Juni 2026 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) kembali menjadi sorotan publik dalam minggu terakhir, tidak hanya karena aktivitas operasionalnya yang luas, tetapi juga karena peristiwa-peristiwa yang menguji ketangguhan merek dan komitmen sosialnya.

Upaya Pencurian Kabel di Banua Anyar

Pada malam Jumat (19 Juni 2026), tiga pria berinisial RY, SN, dan JP yang berdomisili di Kota Banjarmasin ditangkap oleh Polsek Banjarmasin Timur setelah diduga hendak memotong kabel jaringan Telkom di Jalan Banua Anyar, tepatnya di samping Mushola Nurul Huda. Warga sekitar melaporkan aktivitas mencurigakan tersebut, memicu respons cepat aparat dan bahkan amukan massa sebelum para tersangka diserahkan ke pihak berwenang. Pemeriksaan mengonfirmasi bahwa mereka berniat memotong kabel, namun tidak sempat melakukannya karena intervensi warga. Karena tidak ada kerugian material, mereka belum dinyatakan tersangka, melainkan dikenai surat pernyataan dan wajib melapor.

Telkomsel Jaga Bumi: Penanaman 1.000 Mangrove di Angke

Di sisi lain, unit seluler Telkom, Telkomsel, memperlihatkan komitmen ESG melalui program “Jaga Bumi” yang digandengkan dengan organisasi GoZero%. Pada tanggal 20 Juni 2026, sekitar 1.000 bibit mangrove ditanam di Taman Wisata Angke, Jakarta, sebagai bagian dari inisiatif “Dari Lari Jadi Asri” dalam Digiland Run 2026. Acara tersebut sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ulang tahun Telkom dan Telkomsel, serta mendukung target penanaman total 26.350 pohon di seluruh Indonesia. VP Sustainability Telkom Indonesia, Gunawan Wasisto, menekankan bahwa mangrove tidak hanya menghijaukan, tetapi juga berperan sebagai penahan bencana alam.

Hutama Karya dan Posisi Strategis Telkom Group

Keberhasilan infrastruktur Telkom tak lepas dari kontribusi anak perusahaan konstruksi, PT Hutama Karya (Persero). Pada 2026, Hutama Karya menempati peringkat ke‑206 dalam Fortune Southeast Asia 500, sekaligus menembus peringkat ke‑16 di antara semua BUMN Indonesia. Kinerja keuangan yang solid—pendapatan konsolidasi Rp 25,13 triliun, laba bersih Rp 3,08 triliun, dan total aset Rp 189,09 triliun—menegaskan daya saing grup dalam sektor konstruksi dan jaringan telekomunikasi. Direksi menilai pencapaian ini sebagai bukti disiplin pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan optimalisasi portofolio proyek strategis.

Penurunan Saham TLKM di Tengah Pasar Bullish

Walaupun sebagian besar indeks IHSG menguat lebih dari 2 % pada minggu 15–19 Juni 2026, saham TLKM tercatat sebagai salah satu “top losers” dengan penurunan 9,79 % (dari Rp 2.860 menjadi Rp 2.580). Penurunan ini terjadi meski sentimen pasar secara umum positif, menimbulkan pertanyaan mengenai faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi persepsi investor. Analis menyoroti potensi kekhawatiran atas keamanan infrastruktur, serta ekspektasi pasar yang tinggi terhadap inisiatif ESG yang baru saja diluncurkan.

Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menggambarkan dinamika kompleks yang dihadapi Telkom: kebutuhan menjaga keamanan jaringan fisik, memperkuat reputasi melalui aksi lingkungan, serta menavigasi fluktuasi pasar saham. Upaya kolaboratif antara unit operasional, anak perusahaan, dan pemangku kepentingan eksternal menjadi kunci untuk mempertahankan posisi sebagai perusahaan telekomunikasi terdepan di Indonesia.