Rupiah Berfluktuasi di Tengah Geopolitik, Kebijakan Devisa, dan Daya Tarik Turis: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
Rupiah Berfluktuasi di Tengah Geopolitik, Kebijakan Devisa, dan Daya Tarik Turis: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

Rupiah Berfluktuasi di Tengah Geopolitik, Kebijakan Devisa, dan Daya Tarik Turis: Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

LintasWarganet.com – 02 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terus berayun pada awal Juni 2026, mencerminkan kombinasi tekanan eksternal yang dipicu oleh ketegangan Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta dinamika kebijakan devisa dalam negeri. Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.800‑Rp17.850 per dolar AS setelah menguat 76 poin pada hari sebelumnya. Penguatan ini bersifat sementara, karena pasar masih menunggu keputusan Federal Reserve dan data tenaga kerja Amerika yang dapat mengubah ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Faktor Eksternal yang Menyebabkan Fluktuasi

  • Geopolitik Timur Tengah: Negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kemajuan signifikan, sementara eskalasi militer Israel‑Hizbullah meningkatkan ketidakpastian pasokan energi. Harga minyak mentah naik, menambah beban impor energi Indonesia.
  • Kebijakan Moneter AS: Pasar menantikan pidato pejabat Federal Reserve. Ekspektasi pemotongan suku bunga yang semula kuat kini teredam oleh kenaikan harga energi, membuat investor menilai bahwa suku bunga tinggi mungkin bertahan lebih lama.
  • Sentimen Pasar Global: Indeks dolar AS melemah 0,11% menjadi 99,87, namun tetap menjadi faktor penopang pelemahan rupiah ketika dolar menguat terhadap mata uang lainnya.

Kebijakan Devisa Dalam Negeri yang Mendorong Stabilitas

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 tentang perubahan ketiga Devisa Hasil Ekspor (DHE) mulai berlaku 1 Juni 2026. Kebijakan ini mewajibkan eksportir sumber daya alam untuk merepatriasi 100% DHE, dengan ketentuan penempatan khusus di bank nasional selama minimal 12 bulan untuk non‑migas, dan tiga bulan untuk migas. Pembatasan konversi maksimal 5% ke rupiah diharapkan menambah pasokan valuta asing di pasar domestik, menstabilkan nilai tukar.

Implikasi terhadap Sektor Pertanian dan Perikanan

Data Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional naik 1,99% menjadi 127,73 pada Mei 2026. Kenaikan didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 2,53%, terutama pada komoditas karet, gabah, kakao, dan bawang merah. Sub‑sektor hortikultura mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,08%, dipicu oleh lonjakan harga bawang merah, cabai, dan tomat. Di sisi lain, Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun 0,47% akibat selisih antara indeks harga yang diterima dan dibayarkan nelayan.

Pengaruh Nilai Tukar terhadap Pasar Modal dan Pariwisata

Sentimen lemah rupiah turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 0,56% pada pekan lalu, sementara aliran dana asing keluar mencapai Rp3,7 triliun. Di pasar obligasi, imbal hasil 10‑tahun tetap di 6,73%.

Namun, nilai tukar yang melemah justru meningkatkan daya tarik Jakarta bagi wisatawan Singapura. Turis melaporkan bahwa dolar Singapura sekitar Rp13.800 per dolar, memungkinkan mereka membeli barang dan menikmati kuliner dengan biaya lebih rendah. Mereka menilai risiko keamanan sebagai hal biasa, serupa dengan kota besar lainnya, dan tetap melanjutkan program belanja intensif.

Analisis dan Prospek Kedepan

Rupiah telah kehilangan hampir 15% terhadap dolar sejak akhir 2023, melampaui perkiraan APBN 2026 yang menargetkan Rp16.500 per dolar. Selisih lebih dari Rp1.300 menandakan tantangan struktural dalam mengelola ketergantungan energi impor dan kebutuhan devisa. Kebijakan DHE diharapkan mengurangi kesenjangan tersebut, namun tekanan eksternal masih dominan.

Jika Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi, dan konflik di Timur Tengah tidak segera mereda, rupiah kemungkinan akan kembali berada di kisaran Rp17.800‑Rp18.000. Di sisi lain, pemulihan harga komoditas pertanian dapat memperkuat pendapatan petani, mendukung konsumsi domestik, dan mengurangi tekanan inflasi, yang pada gilirannya dapat menstabilkan nilai tukar.

Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan fiskal, reformasi devisa, serta dinamika geopolitik akan menentukan lintasan rupiah ke depan. Pengamat menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan peningkatan produktivitas sektor pertanian untuk memperkuat fondasi ekonomi dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar global.