Riset: 80 Persen Perusahaan Inggris Terdampak Konflik Timur Tengah
Riset: 80 Persen Perusahaan Inggris Terdampak Konflik Timur Tengah

Riset: 80 Persen Perusahaan Inggris Terdampak Konflik Timur Tengah

LintasWarganet.com – 26 Mei 2026 | Riset terbaru mengungkap bahwa sekitar 80 persen perusahaan yang beroperasi di Inggris merasakan dampak langsung atau potensial dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Penelitian ini dilakukan oleh lembaga independen yang mengumpulkan data dari 800 perusahaan multinasional maupun UK‑based.

Metodologi penelitian mencakup survei daring, wawancara dengan eksekutif senior, serta analisis laporan keuangan kuartalan. Responden dipilih secara acak namun representatif, meliputi perusahaan dari sektor energi, manufaktur, transportasi, keuangan, dan teknologi.

  • Total perusahaan yang disurvei: 800
  • Persentase yang merasakan dampak: 80 %
  • Perusahaan yang memperkirakan dampak potensial: 15 %
  • Perusahaan yang belum terpengaruh: 5 %

Berikut adalah perkiraan dampak per sektor berdasarkan hasil survei:

Sektor % Perusahaan Terpengaruh
Energi & Minyak 92 %
Transportasi & Logistik 78 %
Manufaktur 71 %
Keuangan 65 %
Teknologi 58 %

Para pengamat menilai bahwa gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memicu tekanan pada profitabilitas perusahaan. Kenaikan harga minyak mentah, yang dipicu oleh ketegangan di wilayah Teluk, berdampak signifikan pada biaya operasional sektor energi dan transportasi.

Beberapa perusahaan merespons dengan mengalihkan sumber bahan baku ke pasar alternatif, meningkatkan stok strategis, atau menegosiasikan kontrak lindung nilai (hedging) untuk melindungi diri dari volatilitas mata uang dan komoditas.

Para ahli ekonomi memperkirakan bahwa jika konflik berlanjut selama lebih dari enam bulan, dampak negatif terhadap PDB Inggris dapat mencapai 0,3‑0,5 % per kuartal, dengan risiko penurunan investasi asing langsung pada sektor‑sektor yang paling terpapar.

Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya kesiapan bisnis dalam menghadapi risiko geopolitik. Perusahaan diharapkan memperkuat manajemen risiko, memperluas diversifikasi pasar, dan meningkatkan kolaborasi dengan otoritas regulasi untuk meminimalkan dampak yang berkelanjutan.