Harga Pertamax Naik, Ketergantungan pada Energi Fosil Jadi Biang Kerok
Harga Pertamax Naik, Ketergantungan pada Energi Fosil Jadi Biang Kerok

Harga Pertamax Naik, Ketergantungan pada Energi Fosil Jadi Biang Kerok

LintasWarganet.com – 12 Juni 2026 | Penetapan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax mengalami kenaikan signifikan pada kuartal ini. Kenaikan tersebut tidak lepas dari faktor utama yaitu ketergantungan Indonesia pada energi fosil yang masih tinggi, sekaligus fluktuasi harga minyak dunia yang terus meningkat.

Secara historis, harga Pertamax telah mengalami beberapa penyesuaian. Berikut rangkuman harga rata‑rata per liter dalam lima tahun terakhir:

Tahun Harga (Rp/L)
2019 9.500
2020 9.800
2021 10.200
2022 10.600
2023 11.200

Kenaikan harga ini menimbulkan beberapa dampak ekonomi dan sosial, antara lain:

  • Penurunan daya beli masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang sangat bergantung pada transportasi pribadi.
  • Meningkatnya biaya operasional bagi perusahaan logistik dan transportasi, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi pada sektor barang kebutuhan sehari‑hari.
  • Beban tambahan bagi pemerintah dalam mengelola subsidi BBM dan menyeimbangkan anggaran fiskal.

Di tengah situasi tersebut, para pakar energi menekankan pentingnya percepatan transisi ke sumber energi terbarukan. Energi terbarukan dianggap mampu mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah‑langkah yang direkomendasikan meliputi:

  1. Peningkatan investasi pada pembangkit listrik tenaga surya dan angin, terutama di daerah dengan potensi energi terbarukan tinggi.
  2. Penerapan kebijakan insentif fiskal untuk produsen dan konsumen kendaraan listrik.
  3. Pengembangan infrastruktur penyimpanan energi, seperti baterai skala besar, untuk mengatasi variabilitas pasokan energi terbarukan.
  4. Peningkatan riset dan pengembangan teknologi biofuel berbasis bahan baku lokal.

Dengan mengintegrasikan kebijakan energi terbarukan secara menyeluruh, diharapkan Indonesia dapat menurunkan volatilitas harga BBM, mengurangi beban subsidi, serta menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan dan resilient di masa depan.