Demi Stabilitas Anggaran, Ekonom Nilai Penyesuaian Frekuensi Pemberian MBG Lebih Aman Daripada Ubah Total Program

LintasWarganet.com – 08 Mei 2026 | Ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, mengusulkan penyesuaian frekuensi pemberian program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai alternatif yang lebih aman untuk menjaga stabilitas anggaran negara dibandingkan dengan mengubah total cakupan program.

Program MBG, yang ditujukan untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan gizi anak usia dini, telah menjadi komponen penting dalam kebijakan kesehatan dan pendidikan. Namun, besarnya alokasi dana membuat pemerintah harus mempertimbangkan cara-cara efisien untuk menyesuaikan program tanpa mengorbankan manfaat utamanya.

  • Peningkatan kualitas gizi pada setiap porsi, sehingga manfaat nutrisi per sajian lebih optimal.
  • Penerapan mekanisme pemantauan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa anak-anak yang menerima MBG memang berada pada kelompok risiko tinggi.
  • Kolaborasi dengan sektor pertanian lokal untuk menyediakan bahan pangan yang lebih murah namun tetap bernilai gizi tinggi.

Langkah ini dianggap lebih realistis dibandingkan dengan pemotongan total atau restrukturisasi program secara menyeluruh, yang dapat menimbulkan gap layanan dan meningkatkan risiko kembali munculnya masalah gizi pada anak.

Penyesuaian frekuensi juga memberikan fleksibilitas bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan alokasi dana sesuai dengan kondisi fiskal masing‑masing, tanpa harus menunggu perubahan kebijakan nasional yang memakan waktu.

Namun, Laksono menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Pemerintah perlu mengumpulkan data real‑time tentang dampak perubahan frekuensi terhadap status gizi anak, serta melakukan penyesuaian lebih lanjut bila diperlukan. Dengan pendekatan berbasis data, kebijakan dapat tetap adaptif dan tetap fokus pada tujuan utama: menurunkan angka stunting secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, rekomendasi penyesuaian frekuensi pemberian MBG menawarkan solusi tengah yang menyeimbangkan kebutuhan fiskal dengan tujuan kesehatan publik, sekaligus menjaga stabilitas anggaran dalam jangka panjang.