Wamendagri Sebut Tren Penurunan Stunting di Kalsel Positif, Angka Turun menjadi 22,9%
Wamendagri Sebut Tren Penurunan Stunting di Kalsel Positif, Angka Turun menjadi 22,9%

Wamendagri Sebut Tren Penurunan Stunting di Kalsel Positif, Angka Turun menjadi 22,9%

LintasWarganet.com – 07 April 2026 | Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan perbaikan signifikan dalam penurunan prevalensi stunting pada anak-anak. Menurut data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri, angka stunting di Kalsel telah menurun menjadi 22,9 persen, menandakan tren positif yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.

Penurunan ini mencerminkan keberhasilan program-program intervensi gizi, peningkatan akses layanan kesehatan, serta upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi pada masa pertumbuhan. Wamendagri menambahkan bahwa pencapaian ini sejalan dengan target nasional untuk menurunkan angka stunting menjadi di bawah 15 persen pada tahun 2024.

Berikut beberapa faktor kunci yang berkontribusi pada penurunan stunting di Kalsel:

  • Peningkatan cakupan imunisasi: Program imunisasi dasar lengkap (IDL) telah mencakup lebih dari 95 persen anak usia 0-12 bulan.
  • Penyuluhan gizi: Penyuluhan rutin di posyandu dan puskesmas membantu orang tua memahami pola makan seimbang bagi balita.
  • Peningkatan akses air bersih dan sanitasi: Proyek penyediaan air bersih di daerah pedesaan mengurangi risiko infeksi saluran cerna yang dapat memperparah kondisi gizi.
  • Keterlibatan sektor swasta dan LSM: Kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah memperluas program suplementasi zat besi dan vitamin A.

Data historis menunjukkan penurunan bertahap sejak 2018, seperti terlihat pada tabel berikut:

Tahun Prevalensi Stunting (%)
2018 28,5
2019 27,0
2020 25,3
2021 24,1
2022 23,0
2023 22,9

Walaupun pencapaian ini patut diapresiasi, Wamendagri menekankan bahwa upaya harus terus berlanjut. Tantangan utama masih meliputi daerah terpencil dengan akses layanan yang terbatas dan tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Pemerintah berkomitmen memperkuat program gizi berbasis komunitas, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, serta memperluas jaringan posyandu di wilayah paling membutuhkan.

Dengan sinergi antar-instansi, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan tren penurunan stunting dapat dipercepat sehingga Kalsel dapat mencapai target nasional lebih awal. Keberhasilan ini juga diharapkan menjadi contoh bagi provinsi lain dalam upaya mengatasi masalah gizi buruk pada anak.