Tragedi Live TikTok: Remaja Tewas Tenggelam di Sungai Pangkal Titi, Asahan – Kronologi Lengkap
Tragedi Live TikTok: Remaja Tewas Tenggelam di Sungai Pangkal Titi, Asahan – Kronologi Lengkap

Tragedi Live TikTok: Remaja Tewas Tenggelam di Sungai Pangkal Titi, Asahan – Kronologi Lengkap

LintasWarganet.com – 29 Maret 2026 | Sabtu, 28 Maret 2026, warga Asahan, Sumatera Utara, dikejutkan oleh kabar duka dua remaja yang tenggelam saat melakukan siaran langsung di TikTok. Insiden ini terjadi pada Kamis sore, 26 Maret 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, ketika dua remaja berusia 14 dan 13 tahun, Bram Pasaribu dan Prabu Batara Dewi Pangga Siregar, bermain air di sekitar Sungai Pangkal Titi, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan.

Kronologi Kejadian

Menurut keterangan tim SAR, kedua remaja sedang menikmati waktu bersantai di tepi sungai dan sekaligus melakukan streaming langsung melalui aplikasi TikTok. Tanpa disadari, arus kuat sungai menjerat keduanya, menyebabkan mereka terseret ke tengah aliran. Upaya penolong pertama dari warga setempat tidak berhasil menghentikan arus, sehingga kedua remaja terpaksa berjuang melawan air yang semakin deras.

Setelah menerima laporan darurat, Pos SAR Tanjung Balai‑Asahan segera dikerahkan ke lokasi. Tim yang dipimpin oleh Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menyiapkan perahu LCR (Layang Cepat Roda) dan peralatan water rescue untuk memulai operasi penyelamatan.

Upaya Tim SAR

Operasi penyelamatan dimulai pada sore hari yang sama. Tim SAR menyisir aliran sungai secara intensif, menggunakan perahu berkecepatan tinggi untuk menembus area yang sulit dijangkau. Pada pukul 16.15 WIB, Jumat sore, 27 Maret 2026, mereka berhasil menemukan jasad Bram Pasaribu. Jasad ditemukan sekitar satu kilometer dari titik awal kejadian, dalam kondisi mengambang dan sudah tidak bernyawa.

Setelah penemuan tersebut, jasad Bram segera diserahkan kepada keluarga untuk dipersembahkan di rumah duka. Sementara itu, pencarian terhadap Prabu Batara Dewi Pangga Siregar masih berlanjut. Tim SAR gabungan memperluas area pencarian hingga ke hulu sungai, mengkoordinasikan upaya dengan relawan, aparat kepolisian, dan aparat desa setempat.

Hery Marantika menjelaskan bahwa pencarian dilakukan secara berkelanjutan, melibatkan pemindaian dengan drone dan penggunaan sonar portable untuk mendeteksi keberadaan tubuh di dasar sungai. “Kami tidak akan berhenti sampai semua korban ditemukan,” tegasnya dalam pernyataan tertulis pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Reaksi Masyarakat dan Pemerintah

Berita tentang tragedi ini segera menyebar melalui media sosial, terutama platform TikTok, dimana video siaran langsung tersebut sempat terekam sebelum terputus. Banyak netizen mengkritik penggunaan media sosial untuk aktivitas berisiko tanpa pengawasan. Beberapa tokoh masyarakat menyerukan agar orang tua lebih mengawasi anak‑anaknya ketika menggunakan platform daring, terutama ketika berada di lokasi yang rawan seperti sungai atau perairan.

Pemerintah daerah Asahan juga mengeluarkan pernyataan resmi, menegaskan pentingnya edukasi keselamatan air di sekolah dan masyarakat. “Kami akan meningkatkan sosialisasi bahaya arus kuat serta menyediakan fasilitas keselamatan di area wisata air,” ujar Bupati Asahan dalam konferensi pers singkat.

Langkah Keamanan Kedepannya

  • Pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas anak‑anak di tempat umum, terutama yang berhubungan dengan air.
  • Pemasangan papan peringatan bahaya arus kuat di seluruh titik masuk sungai.
  • Penyediaan pelatihan dasar penyelamatan diri dan penggunaan alat pelampung bagi warga.
  • Peningkatan regulasi konten daring yang melibatkan aksi berbahaya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi generasi muda yang kerap mengejar popularitas di dunia maya tanpa memperhitungkan risiko keselamatan. Semoga upaya pencarian terhadap Prabu Batara Dewi Pangga Siregar segera membuahkan hasil, dan kejadian serupa dapat dicegah di masa depan.