Strategi MBG Indonesia Tiru Jepang untuk Tingkatkan Tinggi Badan

LintasWarganet.com – 29 April 2026 | Indonesia kini mengadopsi pendekatan yang dipelajari dari Jepang untuk meningkatkan rata-rata tinggi badan warganya, khususnya anak-anak. Melalui program Merdeka Belajar dan Gotong Royong (MBG), pemerintah menekankan intervensi gizi sejak usia dini guna mencegah stunting dan memperbaiki kualitas pertumbuhan.

Latar Belakang Masalah

Stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan persentase anak di bawah lima tahun yang mengalami gangguan pertumbuhan mencapai angka signifikan. Faktor utama meliputi asupan gizi yang tidak memadai, sanitasi buruk, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai nutrisi.

Strategi Jepang yang Diadaptasi

Jepang berhasil menurunkan tingkat stunting melalui kebijakan terintegrasi yang menekankan tiga pilar utama: asupan nutrisi berkualitas, pemeriksaan kesehatan rutin, dan edukasi gizi di lingkungan sekolah serta keluarga. Indonesia mengadaptasi tiga pilar tersebut dalam kerangka MBG.

  • Asupan Nutrisi Berkualitas: Penyediaan makanan fortifikasi di sekolah dan posyandu, serta promosi makanan tradisional yang kaya protein dan mikronutrien.
  • Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Pengukuran tinggi dan berat badan secara periodik, serta skrining anemia dan defisiensi mikronutrien.
  • Edukasi Gizi Terpadu: Pelatihan bagi guru, tenaga kesehatan, dan orang tua tentang pola makan seimbang untuk anak usia 0‑12 tahun.

Fokus Intervensi pada Usia Penting

Program menargetkan dua fase kritis: masa prenatal hingga dua tahun (0‑24 bulan) dan masa sekolah dasar (6‑12 tahun). Pada fase pertama, prioritasnya adalah pemberian ASI eksklusif, suplementasi vitamin A, dan makanan pendamping ASI yang bergizi. Pada fase kedua, penekanan diberikan pada konsumsi sayur, buah, protein hewani, serta program sarapan sehat di sekolah.

Manfaat yang Diharapkan

Dengan penerapan strategi ini, Indonesia berharap dapat menurunkan angka stunting secara signifikan dalam lima tahun ke depan, meningkatkan rata-rata tinggi badan anak sekolah, serta memperbaiki performa akademik yang terkait dengan status gizi.

Langkah Selanjutnya

Pemerintah berencana memperluas jaringan posyandu, meningkatkan anggaran untuk fortifikasi makanan, serta melibatkan sektor swasta dalam penyediaan makanan bergizi di kantin sekolah. Monitoring dan evaluasi berbasis data akan menjadi kunci untuk menilai efektivitas program dan melakukan penyesuaian kebijakan secara cepat.