Semangat Pratu Ferdiawan dan Duka Dasni Yuzar: Dari Pembangunan Jalan Hingga Perjuangan Masyarakat Trenggalek
Semangat Pratu Ferdiawan dan Duka Dasni Yuzar: Dari Pembangunan Jalan Hingga Perjuangan Masyarakat Trenggalek

Semangat Pratu Ferdiawan dan Duka Dasni Yuzar: Dari Pembangunan Jalan Hingga Perjuangan Masyarakat Trenggalek

LintasWarganet.com – 21 Mei 2026 | Pagi itu, cahaya mentari menembus dedaunan pinus di Desa Sukorejo, Kabupaten Trenggalek, menandai dimulainya kegiatan pembangunan jalan baru yang dipimpin oleh Pratu Ferdiawan, anggota Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke‑120. Dengan motor menembus jalan tanah yang menanjak, Pratu dan 150 personel Satgas TMMD ke‑128 berkoordinasi bersama warga setempat untuk mengecor 772 meter jalan beton yang akan memotong hutan pinus dan menghubungkan desa‑desa terpencil.

Rintangan Medan dan Solusi Inovatif

Medan yang berbatu, tanah liat, serta jalan sempit menjadi tantangan utama. Menurut Letkol Inf. Isnanto Roy Saputro, Dansatgas TMMD ke‑128, tim mengatasi kendala dengan membuka jalan menggunakan alat berat, sehingga material dapat dijatuhkan memakai pickup dan motor roda dua. Ketersediaan air untuk proses pengecoran menjadi masalah lain karena truk tangki tidak selalu dapat mencapai lokasi. Solusinya, personel berbagi tugas untuk mengangkut air secara manual, memastikan pekerjaan tidak terhenti meski hujan turun secara tiba‑tiba.

Manfaat Pembangunan bagi Kesejahteraan

Jalan baru diharapkan menjadi nadi ekonomi bagi warga Sukorejo. Sebelumnya, petani harus menempuh jalur berliku untuk mengangkut hasil pertanian ke pasar. Dengan akses yang lebih baik, biaya transportasi menurun, waktu tempuh berkurang, dan peluang pasar menjadi lebih luas. Selain meningkatkan mobilitas, infrastruktur ini juga menjadi sarana penanggulangan bencana, memungkinkan bantuan cepat tiba saat diperlukan.

Duka yang Menimpa Lhokseumawe

Di sisi lain Pulau Sumatra, Lhokseumawe tengah berduka atas meninggalnya Dasni Yuzar, mantan Sekretaris Daerah (Sekdako) periode 2012‑2016. Pada 5 Februari pagi, Dasni menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Arun akibat komplikasi diabetes dan stroke. Ia berusia 60 tahun dan dikenang sebagai figur yang pernah menjabat Kabag Hukum (2003‑2005), Sekwan DPRK Lhokseumawe (2005‑2011), serta Asisten II Bidang Ekonomi Setdako (2011‑2012). Keluarganya, termasuk istri Hj. Yasmarita dan enam anak, telah menunaikan pemakaman di TPU keluarga, Desa Cot Girek, Kecamatan Muara Dua.

Kejadian Kontroversial di Sekitar Pratu Miftahul

Pada minggu yang sama, warga Lhokseumawe mengungkapkan keresahan terkait insiden pengeroyokan yang melibatkan Pratu Miftahul, seorang aktivis lokal. Keluarga korban menuntut keadilan, sementara Kapolres menyatakan keseriusan penyelidikan. Meskipun tidak ada kaitan langsung antara Pratu Ferdiawan yang terlibat dalam proyek TMMD dan Pratu Miftahul, nama “Pratu” muncul di dua konteks berbeda, menambah kompleksitas narasi sosial di wilayah tersebut.

Sinergi Pemerintah, TNI, dan Masyarakat

Kasus pembangunan jalan di Sukorejo dan duka di Lhokseumawe menggambarkan dua sisi realita Indonesia: semangat kolaboratif yang menggerakkan proyek infrastruktur, sekaligus tantangan sosial yang memerlukan kepedulian dan penegakan hukum. Pemerintah daerah Trenggalek, bersama Kodim 0806/Trenggalek, menegaskan komitmen untuk melanjutkan program TMMD sebagai bagian dari operasi bakti, selaras dengan undang‑undang yang menekankan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Lhokseumawe, upaya menghormati warisan Dasni Yuzar dan menuntut keadilan bagi korban pengeroyokan menjadi agenda utama.

Dengan jalan baru yang mulai menghubungkan desa‑desa, harapan akan pertumbuhan ekonomi di Trenggalek semakin kuat. Sementara itu, Lhokseumawe harus menyatukan langkah untuk menyelesaikan persoalan hukum dan melestarikan ingatan akan tokoh‑tokoh yang telah memberi kontribusi bagi pembangunan daerah. Kedua cerita ini menegaskan bahwa kemajuan dan tantangan berjalan beriringan, menuntut sinergi antara institusi, aparat keamanan, dan masyarakat luas.