Sampah Organik Jadi Sorotan, Kementerian Lingkungan Hidup Luncurkan Proyek Besar Reduksi Emisi Metana
Sampah Organik Jadi Sorotan, Kementerian Lingkungan Hidup Luncurkan Proyek Besar Reduksi Emisi Metana

Sampah Organik Jadi Sorotan, Kementerian Lingkungan Hidup Luncurkan Proyek Besar Reduksi Emisi Metana

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Indonesia resmi meluncurkan inisiatif skala nasional untuk menurunkan emisi metana yang berasal dari sampah organik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama mitra strategis mengumumkan rencana pembentukan jaringan fasilitas pengelolaan sampah yang dilengkapi dengan teknologi penangkapan dan pemanfaatan metana.

Metana, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida, banyak dihasilkan pada tahap penguraian sampah organik di tempat pembuangan akhir (TPA). Menurut data nasional, sektor sampah menyumbang lebih dari 10 persen total emisi metana Indonesia.

Proyek ini menargetkan tiga fase utama:

  • Piloting pada lima provinsi dengan tingkat produksi sampah organik tertinggi selama 2024-2025.
  • Pembangunan infrastruktur penangkap metana di 50 TPA utama, dilengkapi sistem biogas untuk pembangkit listrik atau bahan bakar.
  • Skalabilitas nasional dengan target pengurangan emisi metana sebesar 3,5 juta ton CO2e per tahun pada akhir 2028.

Untuk mendukung implementasi, KLHK mengalokasikan dana awal sebesar Rp1,2 triliun yang akan dipadukan dengan investasi hijau dari sektor swasta. Skema pembiayaan mencakup hibah, pinjaman bersubsidi, serta mekanisme hasil penjualan energi terbarukan.

Berikut perkiraan dampak lingkungan dan ekonomi yang diharapkan:

Tahun Pengurangan Metana (ton) Energi Terproduksi (GWh) Penciptaan Lapangan Kerja
2025 1,200,000 350 2,500
2026 2,000,000 620 4,100
2028 3,500,000 1,100 7,300

Selain mengurangi jejak karbon, proyek ini diharapkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar TPA dengan mengurangi bau tidak sedap serta menyediakan sumber energi bersih yang dapat menurunkan biaya listrik pada sektor publik.

Para ahli menyatakan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada koordinasi lintas sektoral, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, serta kepatuhan regulasi yang mendukung penggunaan teknologi ramah lingkungan.