Saham BUMI Melaju di Tengah Penurunan IHSG, Apa Sinyal bagi Investor Properti dan Emas?
Saham BUMI Melaju di Tengah Penurunan IHSG, Apa Sinyal bagi Investor Properti dan Emas?

Saham BUMI Melaju di Tengah Penurunan IHSG, Apa Sinyal bagi Investor Properti dan Emas?

LintasWarganet.com – 18 Juni 2026 | Pasar saham Indonesia pada 18 Juni 2026 menunjukkan tekanan luas, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbuka di zona merah dan melapor penurunan sekitar 1,20% ke level 6.191,89. Penurunan ini dipicu oleh penurunan harga emas dunia yang jatuh 1,28% ke US$4.306,74 per troy ons, serta kekhawatiran global mengenai kebijakan suku bunga The Fed. Meskipun demikian, tidak semua emiten terpengaruh secara seragam. Saham Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat kenaikan 1,79% ke level Rp171, menonjol di antara sektor energi yang umumnya tertekan.

Pergerakan Saham BUMI dan Dinamika Harga Emas

Emiten tambang emas di BEI biasanya mengikuti pergerakan harga emas, namun pada hari itu harga emas global turun lebih dari 23% dari puncaknya pada akhir Januari 2026. Penurunan tajam tersebut seharusnya menekan saham pertambangan, namun BUMI, yang bergerak di sektor batu bara dan energi, justru menunjukkan performa positif. Hal ini mencerminkan perbedaan sentimen antara logam mulia dan energi, serta ekspektasi permintaan batu bara domestik yang tetap kuat.

  • Harga emas turun 1,28% menjadi US$4.306,74/oz.
  • IHSG turun 1,20% menjadi 6.191,89.
  • Saham BUMI naik 1,79% ke Rp171.
  • Saham TLKM turun 7,77% ke Rp2.730, menjadi salah satu penyumbang utama penurunan IHSG.

Di sisi lain, saham-saham besar lainnya seperti PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Elang Mahkota Teknologi (EMTK), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengalami penurunan tajam, masing-masing turun 7,77%, 3,45%, dan 2,92%.

BSDE Puasa Dividen, Laba Jumbo Perkuat Struktur Modal

Di sektor properti, Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengumumkan keputusan untuk menunda pembayaran dividen dan menyalurkan laba bersih tahun 2025 sebesar Rp2,55 triliun ke dalam laba ditahan. Langkah ini meningkatkan ekuitas perusahaan menjadi Rp52,67 triliun dan menurunkan rasio utang bersih terhadap ekuitas ke 8,68%. Manajemen menilai keputusan tersebut strategis untuk memperkuat modal kerja, memperluas land bank, dan mendukung proyek residensial yang diproyeksikan menghasilkan prapenjualan senilai Rp10 triliun pada 2026.

Data keuangan menunjukkan pertumbuhan aset sebesar 4,27% menjadi Rp79,27 triliun serta kas dan setara kas mencapai Rp10,28 triliun, menegaskan posisi likuiditas yang kuat. Fokus utama BSDE tetap pada segmen residensial, yang diharapkan menyumbang 50% target prapenjualan 2026.

Agenda Penting yang Menentukan Arah Pasar

Investor kini menanti keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan dinaikkan 25 basis poin menjadi 5,75%. Selain itu, hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI serta rebalancing indeks FTSE pada 19 Juni 2026 menjadi faktor penentu volatilitas jangka pendek. Sentimen domestik masih dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang melemah 0,21% ke Rp17.762 per dolar AS.

Analisis dari Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa IHSG kemungkinan akan bergerak sideways dalam rentang 6.100 hingga 6.350 selama beberapa hari ke depan, dengan tekanan jual masih dominan namun ada ruang bagi saham-saham yang memiliki fundamental kuat seperti BUMI dan BSDE untuk mencatatkan kinerja relatif positif.

Secara sektoral, sektor bahan baku mencatatkan penguatan 0,65% sementara sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,03%. Saham-saham komoditas seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tetap menjadi bintang di LQ45 dengan kenaikan hampir 6%.

Kesimpulannya, meskipun pasar saham Indonesia berada dalam fase koreksi, saham BUMI dan BSDE menunjukkan daya tahan yang menarik bagi investor yang mencari eksposur pada sektor energi dan properti. Kekuatan neraca BSDE dan prospek permintaan batu bara domestik dapat menjadi penopang utama dalam menghadapi volatilitas yang dipicu oleh kebijakan suku bunga global dan lokal.