Rumah yang Bukan Lagi Rumah Bagi Pengungsi Suriah di Yordania
Rumah yang Bukan Lagi Rumah Bagi Pengungsi Suriah di Yordania

Rumah yang Bukan Lagi Rumah Bagi Pengungsi Suriah di Yordania

LintasWarganet.com – 26 Mei 2026 | Umm Abdulrahman, seorang wanita Suriah yang menghabiskan bertahun‑tahun hidup dalam pengasingan di Yordania, terus memupuk harapan untuk kembali ke tanah airnya meski kini ia tinggal di sebuah rumah yang tidak lagi menjadi tempat tinggal yang layak. Sejak konflik bersenjata melanda Suriah pada 2011, ribuan keluarga terpaksa meninggalkan rumah, harta, dan jaringan sosial mereka. Banyak yang menemukan perlindungan sementara di kamp‑kamp pengungsi, namun seiring berjalannya waktu, kondisi kamp tersebut menurun menjadi lebih mirip dengan pemukiman informal yang kurang fasilitas dasar.

Di kamp Zaatari, salah satu kamp terbesar di Yordania, Umm Abdulrahman bersama dua anaknya tinggal di sebuah unit yang awalnya dibangun sebagai tenda tahan lama. Namun, karena kurangnya perawatan dan kepadatan penduduk yang terus meningkat, struktur tersebut kini menunjukkan tanda‑tanda kerusakan serius. Atapnya bocor saat hujan, dindingnya retak, dan tidak ada sistem sanitasi yang memadai. “Setiap kali hujan turun, kami harus menutup semua barang agar tidak basah,” keluhnya.

Situasi serupa terjadi di kamp-kamp lain seperti Azraq, di mana rumah‑rumah sederhana yang dibangun dari bahan kayu dan plastik mulai lapuk. Kondisi tersebut menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi anak‑anak yang rentan terhadap penyakit pernapasan dan diare. Menurut data organisasi kemanusiaan, lebih dari 40% pengungsi di kamp‑kamp Yordania melaporkan mengalami masalah kesehatan terkait lingkungan tempat tinggal mereka.

  • Kepadatan penduduk: Rata‑rata kepadatan di kamp Zaatari mencapai 10.000 orang per km², jauh di atas standar internasional.
  • Keterbatasan fasilitas: Hanya 30% rumah memiliki akses ke listrik tetap; sebagian besar mengandalkan generator diesel yang tidak stabil.
  • Kesehatan mental: Tingkat stres dan trauma meningkat, dengan lebih dari 25% pengungsi melaporkan gejala depresi.

Upaya pemerintah Yordania bersama lembaga internasional untuk memperbaiki kondisi perumahan telah dilakukan, antara lain dengan program renovasi rumah dan pembangunan kembali infrastruktur sanitasi. Namun, tantangan utama adalah keterbatasan dana serta birokrasi yang menghambat distribusi bantuan secara cepat.

Selain masalah fisik, pengungsi seperti Umm Abdulrahman juga menghadapi dilema psikologis. “Saya selalu bertanya‑tanya apakah saya akan kembali ke Suriah atau tetap di sini selamanya,” ujar ia. Keinginan untuk kembali ke tanah air dipengaruhi oleh rasa keterikatan pada identitas budaya, serta harapan akan rekonsiliasi politik di Suriah.

Berbagai organisasi non‑pemerintah berupaya memberikan pelatihan keterampilan dan pendidikan bagi pengungsi, agar mereka dapat menjadi lebih mandiri secara ekonomi. Program vokasional di Zaatari, misalnya, menawarkan kursus menjahit, kerajinan tangan, dan teknologi informasi, yang memungkinkan para peserta memperoleh penghasilan tambahan.

Meski demikian, banyak pengungsi tetap bergantung pada bantuan makanan dan bantuan tunai. Tanpa solusi jangka panjang yang memadai, rumah‑rumah yang kini dianggap tidak layak akan terus menjadi simbol ketidakpastian bagi ribuan keluarga Suriah yang terdampar di Yordania.