Rencana Revitalisasi GBK dan Nasib Hotel Sultan: Dari Rumor Demolisi hingga Pendataan Karyawan
Rencana Revitalisasi GBK dan Nasib Hotel Sultan: Dari Rumor Demolisi hingga Pendataan Karyawan

Rencana Revitalisasi GBK dan Nasib Hotel Sultan: Dari Rumor Demolisi hingga Pendataan Karyawan

LintasWarganet.com – 23 Juni 2026 | Gelora Bung Karno (GBK) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul wacana mengenai masa depan Hotel Sultan, bangunan ikonik yang terletak di kawasan tersebut. Sementara Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penataan ulang seluruh kawasan GBK menjadi pusat ekonomi baru, pihak pengelola GBK menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah proses alih kelola dan pendataan karyawan yang terdampak.

Rumor Demolisi Hotel Sultan Belum Dikonfirmasi

Kepala Divisi Humas, Hukum, dan Administrasi Pusat Pengelolaan Kompleks GBK, Asep Triyadi, menanggapi pernyataan CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang menyebutkan pemerintah pusat akan merobohkan Hotel Sultan setelah eksekusi pengosongan. Asep menyatakan bahwa hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai perobohan tersebut. “Kalau itu (perobohan Hotel Sultan) kami belum sampai ke sana,” ujar Asep melalui pesan singkat kepada Kompas.com pada Selasa, 23 Juni 2026.

Pendataan Karyawan Sebagai Prioritas

Setelah pengosongan hotel, Pusat Pengelolaan Kompleks GBK (PPK GBK) mendirikan posko alih kelola di Blok 15, Gedung Parkir A. Posko ini menjadi tempat para mantan karyawan Hotel Sultan menyerahkan dokumen ketenagakerjaan, seperti KTP, kontrak kerja, dan slip gaji. Lebih dari seratus pekerja telah melapor, dan proses wawancara berlangsung secara bertahap untuk menilai kelayakan penyerapan kembali tenaga kerja.

Adri, seorang karyawan berusia 28 tahun, menjelaskan prosedur yang dijalani: “Di dalam tuh ditanyain kerjanya gimana, berapa hari, gaji saya berapa, terus sistem di timnya gimana, punya kemampuan apa, kayak wawancara kerja sih.” Ia berharap data yang terkumpul dapat menghasilkan kepastian kerja kembali, baik di bawah manajemen baru atau tetap di bawah GBK.

Kekhawatiran Pekerja Terhadap Wacana Demolisi

Berbagai pekerja mengungkapkan keprihatinan mereka. Windy, seorang housekeeping, menilai bahwa membongkar Hotel Sultan dan membangun kembali akan menjadi pemborosan anggaran serta memperpanjang masa pengangguran. “Menurut saya sih nanti malah boros, kalau misal dirobohin terus dibangun hotel baru lagi, duit lagi kan bangunnya, dan pasti lama,” kata rekan kerja bernama Wahyu.

Imam, seorang karyawan berusia 30 tahun, lebih optimis. Ia berharap alih kelola tidak berarti demolisi total, melainkan transisi manajemen yang tetap menjaga eksistensi bangunan. “Saya berharap alih kelola Hotel Sultan ini hanya sebatas transisi manajemen, tanpa harus membongkar bangunan,” ujar Imam.

Visi Pemerintah: GBK Menjadi Ikon Ekonomi Baru

Presiden Prabowo Subianto, melalui Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, menegaskan bahwa kawasan GBK akan diubah menjadi ikon baru Indonesia berstandar internasional. Revitalisasi tidak hanya mencakup Hotel Sultan, tetapi juga seluruh area seluas 200 hektare, termasuk lapangan golf dan fasilitas olahraga lainnya.

Pengelolaan kawasan diusulkan melibatkan entitas milik negara seperti InJourney dan Meru, setelah proses administrasi selesai. Meskipun konsep akhir masih dalam tahap perumusan, sinyal kuat bahwa pemerintah berkomitmen pada transformasi menyeluruh kawasan GBK.

Langkah Selanjutnya dan Tantangan

  • Pendataan lengkap: PPK GBK harus menyelesaikan verifikasi data lebih dari 100 mantan pekerja, memastikan hak-hak ketenagakerjaan dipenuhi.
  • Keputusan akhir tentang Hotel Sultan: Pemerintah pusat perlu memberikan arahan resmi apakah bangunan akan direnovasi, diubah fungsi, atau dibongkar.
  • Rencana investasi: Pengembangan kawasan GBK memerlukan dana signifikan; transparansi penggunaan anggaran menjadi kunci untuk menghindari kritik publik.
  • Keterlibatan stakeholder: Serikat pekerja, vendor, dan masyarakat sekitar harus dilibatkan dalam proses perencanaan agar hasil akhir dapat diterima luas.

Dengan fokus pada pendataan karyawan dan penataan ulang kawasan, pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan pekerja yang terdampak. Keputusan akhir mengenai Hotel Sultan akan menjadi penentu utama arah revitalisasi GBK ke depan.

Sejauh ini, para pekerja menunggu kepastian. Harapan mereka tetap pada kemungkinan penyerapan kembali tenaga kerja dan pemeliharaan bangunan agar tidak menjadi kosong terbengkalai. Sementara itu, pemerintah terus menyiapkan rencana strategis untuk menjadikan GBK pusat pertumbuhan ekonomi baru yang dapat bersaing di kancah internasional.