Rachmat Irianto Pimpin DRMA Redam Dampak Konflik: Optimasi Rantai Pasok Komponen Nasional
Rachmat Irianto Pimpin DRMA Redam Dampak Konflik: Optimasi Rantai Pasok Komponen Nasional

Rachmat Irianto Pimpin DRMA Redam Dampak Konflik: Optimasi Rantai Pasok Komponen Nasional

LintasWarganet.com – 27 April 2026 | Jakarta – Di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu oleh konflik bersenjata di beberapa wilayah, Rachmat Irianto, Direktur Utama Dewan Rantai Manufaktur dan Akomodasi (DRMA), mengumumkan serangkaian langkah strategis untuk menstabilkan industri komponen dalam negeri. Langkah tersebut mencakup optimalisasi rantai pasok, diversifikasi sumber bahan baku, serta kolaborasi lintas sektoral yang diharapkan dapat meredam efek negatif perang terhadap produksi dan distribusi komponen kritis.

Strategi Penguatan Rantai Pasok

Menurut pernyataan resmi DRMA yang disampaikan Rachmat Irianto dalam konferensi pers di Kantor Pusat DRMA, Jakarta, fokus utama adalah memperkuat ketahanan rantai pasok dengan menambah kapasitas produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. “Kami telah merancang skema penyesuaian alur logistik yang melibatkan pelabuhan, gudang, dan transportasi darat, sehingga setiap tahap dapat beroperasi secara sinkron,” ujar Irianto.

Strategi tersebut meliputi tiga pilar utama:

  • Peningkatan Kapasitas Produksi Dalam Negeri – DRMA bekerja sama dengan 12 perusahaan manufaktur skala menengah untuk meningkatkan output komponen elektronik dan mekanik melalui investasi mesin CNC modern.
  • Diversifikasi Sumber Bahan Baku – Mengidentifikasi pemasok alternatif di Asia Tenggara dan Amerika Selatan, serta mengembangkan jaringan pemasok lokal untuk bahan baku kritis seperti tembaga, aluminium, dan silikon.
  • Digitalisasi Manajemen Logistik – Implementasi platform digital berbasis AI untuk memantau real‑time pergerakan barang, memprediksi bottleneck, dan mengoptimalkan rute pengiriman.

Dampak Positif Terhadap Industri Komponen

Langkah-langkah tersebut telah menunjukkan hasil awal yang signifikan. Data internal DRMA mencatat penurunan waktu transit rata‑rata sebesar 18 persen dan peningkatan ketersediaan stok komponen kritis sebesar 22 persen dalam tiga bulan pertama pelaksanaan. “Kita melihat penurunan biaya logistik hingga 7 persen, yang pada gilirannya menurunkan harga jual akhir produk bagi konsumen,” tambah Irianto.

Selain itu, sektor industri otomotif, elektronik, dan energi terbarukan yang sangat bergantung pada komponen berkualitas tinggi, melaporkan peningkatan produksi sebesar 5-9 persen sejak program ini berjalan. Hal ini membantu menstabilkan pasokan kendaraan listrik, panel surya, serta peralatan rumah tangga yang sempat terhambat oleh gangguan perdagangan internasional.

Kolaborasi Pemerintah dan Swasta

Rachmat Irianto menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku usaha kecil menengah (UKM). DRMA telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, serta Asosiasi Produsen Komponen Nasional (APKN). “Kerjasama ini memungkinkan akses subsidi energi, kemudahan perizinan, dan insentif pajak bagi perusahaan yang berpartisipasi dalam program penguatan rantai pasok,” ujar Irianto.

Selanjutnya, DRMA meluncurkan program pelatihan tenaga kerja berbasis kompetensi digital untuk meningkatkan keterampilan teknis pekerja di pabrik-pabrik komponen. Program tersebut mencakup modul tentang pemeliharaan prediktif, analisis data produksi, dan penggunaan robotik dalam lini perakitan.

Tantangan dan Prospek Kedepan

Meski strategi yang diusung Rachmat Irianto menunjukkan hasil positif, tantangan tetap ada. Fluktuasi harga komoditas global, serta pembatasan ekspor dari negara pemasok utama, tetap menjadi risiko yang harus dikelola. DRMA berencana memperkuat hubungan dengan lembaga keuangan internasional untuk menyediakan pembiayaan fleksibel bagi pelaku usaha yang ingin melakukan modernisasi fasilitas produksi.

Ke depan, Irianto menargetkan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri sebesar 30 persen pada akhir tahun depan, sekaligus mengurangi ketergantungan impor komponen kritis dari 45 persen menjadi di bawah 30 persen. “Tujuan kami adalah menciptakan ekosistem industri yang mandiri, inovatif, dan tahan terhadap gejolak geopolitik,” tuturnya.

Dengan langkah-langkah konkret yang dipimpin oleh Rachmat Irianto, DRMA tidak hanya berupaya mengurangi dampak perang terhadap industri komponen, tetapi juga menyiapkan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.