Perang Iran Mengguncang Pasar Energi Global: Dari Krisis di Filipina hingga Ancaman Bencana Iklim
Perang Iran Mengguncang Pasar Energi Global: Dari Krisis di Filipina hingga Ancaman Bencana Iklim

Perang Iran Mengguncang Pasar Energi Global: Dari Krisis di Filipina hingga Ancaman Bencana Iklim

LintasWarganet.com – 30 Maret 2026 | Jalanan energi dunia kini bergejolak setelah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari 2026 meluas hingga Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia. Serangan balasan Iran dan penutupan sebagian wilayah laut menimbulkan hambatan signifikan pada transportasi bahan bakar, memicu lonjakan harga dan menimbulkan kepanikan di sejumlah negara.

Dampak Langsung pada Pasokan Minyak

Selat Hormuz menyumbang hampir satu pertiga pengiriman minyak mentah global. Ketika kapal‑kapal tanker menghadapi ancaman serangan, operator logistik memilih rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Akibatnya, pasokan minyak mentah ke pasar internasional menurun sekitar 7 % dalam tiga minggu pertama konflik, memaksa negara‑negara konsumen mengaktifkan kebijakan darurat energi.

Respon Darurat di Asia Tenggara dan Asia Selatan

Filipina menjadi contoh pertama yang secara resmi menyatakan darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Pemerintah mengalokasikan dana darurat senilai 20 miliar peso (sekitar Rp 5,61 triliun) untuk membeli dua juta barel bahan bakar, termasuk minyak olahan dan LPG. Di Bangladesh, asosiasi pemilik SPBU mengancam akan menghentikan operasi jika pasokan tidak stabil, mencerminkan ketegangan yang meluas di kawasan.

Korea Selatan juga mengaktifkan status tanggap darurat pada 25 Maret 2026, menyerukan hemat energi kepada masyarakat serta menyiapkan cadangan strategis. Sementara itu, Indonesia diposisikan sebagai “sunyi sebelum badai” oleh ekonom Bhima Yudhistira dari CELIOS. Meskipun tidak mengumumkan kebijakan darurat, data cadangan minyak Indonesia hanya cukup untuk 25 hari, jauh di bawah standar Jepang yang menyiapkan 254 hari.

Perbandingan Kebijakan Mitigasi

Jepang menanggapi krisis dengan meluncurkan paket mitigasi yang mencakup pelepasan 400 juta barel minyak melalui IEA, serta percepatan pembangunan pembangkit tenaga angin lepas pantai dan proyek hidrogen. Tujuannya menjaga harga BBM tidak melebihi 170 yen per liter. Indonesia, sebaliknya, belum mengumumkan skenario APBN perubahan untuk menambah subsidi energi yang diperkirakan membutuhkan tambahan Rp 126 triliun.

Dimensi Lingkungan: Emisi Karbon dari Konflik

Laporan terbaru mengungkap bahwa dalam 14 hari pertama konflik, aktivitas militer menghasilkan sekitar lima juta ton CO₂ ekuivalen. Emisi ini setara dengan total emisi tahunan beberapa negara kecil. Penyebab utama meliputi pembakaran bahan bakar pesawat tempur, kapal perang, serta kebakaran di depot bahan bakar Iran yang dipicu serangan Israel. Diperkirakan 150–270 juta liter bahan bakar militer digunakan, menghasilkan lebih dari 500 000 ton CO₂e, sementara kebakaran depot menambah hingga 1,9 juta ton CO₂e.

Para pakar iklim menilai konflik ini sebagai bencana iklim tambahan di tengah upaya global menurunkan emisi. Patrick Bigger, direktur Climate and Community Institute, menekankan bahwa setiap serangan militer menambah beban pemanasan planet dan mengalihkan fokus energi dari transisi hijau.

Implikasi Ekonomi Global

Kenaikan harga minyak mentah berdampak pada inflasi energi di seluruh dunia. Negara‑negara pengimpor minyak, terutama yang bergantung pada jalur Hormuz, menghadapi tekanan pada neraca perdagangan. Sektor transportasi, manufaktur, dan rumah tangga merasakan beban biaya yang meningkat, memicu kebijakan stimulus energi di beberapa ekonomi maju.

Di Indonesia, konsumen masih menghadapi harga BBM yang relatif stabil karena subsidi, namun risiko kenaikan tajam tetap mengintai. Ahli energi menilai bahwa tanpa diversifikasi sumber energi dan peningkatan cadangan strategis, Indonesia berpotensi mengalami guncangan serupa bila konflik berlanjut atau meluas.

Dengan ketegangan geopolitik yang masih tinggi, komunitas internasional terus menekankan pentingnya dialog diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Upaya bersama dalam pengembangan energi terbarukan serta koordinasi kebijakan darurat menjadi kunci mengurangi dampak ekonomi dan lingkungan yang ditimbulkan oleh perang.

Secara keseluruhan, perang di Iran tidak hanya menimbulkan korban manusia dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengubah lanskap energi global, memaksa negara‑negara di seluruh dunia untuk menyesuaikan strategi keamanan energi dan mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.