PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka
PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka

PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka

LintasWarganet.com – 24 Mei 2026 | Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, menegaskan bahwa perayaan Iduladha 1447 Hijriah atau tahun 2026 tidak sekadar menjadi momentum keagamaan, melainkan juga panggilan moral bagi seluruh umat manusia di tengah situasi dunia yang penuh luka.

Beberapa contoh krisis yang menimpa dunia saat ini antara lain:

  • Perang di Ukraina yang masih berkepanjangan dan menimbulkan jutaan pengungsi.
  • Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya di Yaman dan Sudan.
  • Krisis iklim yang memperparah kelaparan di beberapa negara Afrika.
  • Tekanan inflasi global yang menggerus daya beli masyarakat di seluruh belahan dunia.

Dalam konteks tersebut, KH. Macshoem menekankan bahwa semangat Iduladha—yang menekankan pada pengorbanan kurban, persaudaraan, dan tolong-menolong—harus dijadikan refleksi nyata untuk mengurangi penderitaan dan menumbuhkan rasa empati antar sesama.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, baik Muslim maupun non‑Muslim, untuk menjadikan Iduladha sebagai ajakan konkrit dalam membantu korban konflik, mendukung program bantuan kemanusiaan, serta memperkuat jaringan solidaritas sosial.

Pernyataan tersebut selaras dengan upaya PBNU selama ini dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan keadilan sosial melalui berbagai inisiatif, termasuk pendirian rumah makan gratis, bantuan pendidikan bagi anak‑anak pengungsi, serta kerjasama lintas agama dalam proyek‑proyek kemanusiaan.

Selain itu, PBNU menyoroti pentingnya peran pemuda dalam menggerakkan gerakan kepedulian. KH. Macshoem mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial dan platform digital sebagai sarana menyebarkan pesan damai serta menggalang dukungan bagi mereka yang terdampak krisis.

Harapan utama PBNU adalah agar Iduladha 2026 tidak hanya dirayakan dengan ritual kurban semata, tetapi juga dengan aksi nyata yang menegaskan bahwa umat manusia dapat bersatu melampaui perbedaan, mengatasi rasa sakit, dan membangun kembali harapan bagi dunia yang terluka.