Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Membuat Belanda Kocar-Kacir
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Membuat Belanda Kocar-Kacir

Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Membuat Belanda Kocar-Kacir

LintasWarganet.com – 12 April 2026 | Pangeran Sambernyawa, tokoh perlawanan Jawa pada pertengahan abad ke-18, memimpin pertempuran melawan Kompeni Hindia Belanda selama 16 tahun, dari 1740 hingga 1757. Dengan keberanian yang menggelora, ia menggerakkan pasukannya menggunakan slogan legendaris Tiji Tibeh yang menjadi teriakan penyemangat dalam setiap serangan.

Semboyan tersebut, yang secara harfiah berarti “tiga tibeh”, dipahami oleh pasukan sebagai simbol persatuan tiga elemen utama: keberanian, keadilan, dan semangat kebebasan. Ketika pasukan Sambernyawa mengibarkan bendera dan melantunkan slogan itu, pasukan Belanda sering kali terkejut dan kebingungan, karena tak hanya menghadapi taktik gerilya, tetapi juga semangat yang tak mudah dipadamkan.

Berbagai pertempuran penting menandai era perlawanan tersebut, antara lain:

  • Serangan ke Benteng Gede, yang berhasil memaksa Belanda mundur sementara.
  • Pengepungan ke Kota Solo, di mana pasukan Sambernyawa memanfaatkan medan rawa untuk melancarkan serangan mendadak.
  • Pertempuran di daerah Banyumas, yang berakhir dengan penangkapan sejumlah komandan Belanda.

Reaksi Belanda terhadap taktik Sambernyawa tidak hanya bersifat militer. Laporan internal Kompeni mencatat rasa frustasi yang mendalam karena tidak dapat mematahkan semangat juang yang dipicu oleh Tiji Tibeh. Upaya diplomasi sekaligus penindasan pun dilancarkan, namun perlawanan tetap berlanjut hingga kematian sang pangeran pada tahun 1757.

Warisan Pangeran Sambernyawa tetap hidup dalam ingatan masyarakat Jawa. Semboyan Tiji Tibeh kini dijadikan simbol perlawanan terhadap penindasan, sekaligus inspirasi bagi generasi muda yang menuntut keadilan dan kedaulatan.