Pakar ITB: Cimahi Terancam Krisis Air Bersih Akibat Eksploitasi Tanah
Pakar ITB: Cimahi Terancam Krisis Air Bersih Akibat Eksploitasi Tanah

Pakar ITB: Cimahi Terancam Krisis Air Bersih Akibat Eksploitasi Tanah

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, memperingatkan bahwa kota Cimahi berada di ambang krisis air bersih. Menurutnya, peningkatan laju eksploitasi tanah untuk pembangunan dan pertambangan mengganggu struktur hidrologi alami, sehingga mengurangi infiltrasi air ke dalam akuifer.

Heri menegaskan bahwa penurunan kemampuan tanah menyerap air berpotensi menurunkan cadangan air tanah secara signifikan. Jika tren ini berlanjut, wilayah perkotaan dan sekitarnya dapat menghadapi kekurangan pasokan air bersih, terutama pada musim kemarau.

  • Faktor utama: penebangan vegetasi, penggalian batuan, dan penutupan lahan dengan beton.
  • Dampak jangka pendek: penurunan tingkat air permukaan dan penurunan kualitas air.
  • Dampak jangka panjang: penurunan cadangan air tanah dan risiko penurunan muka air sumur.

Para ahli geodesi menambahkan bahwa pengukuran penurunan muka air tanah di beberapa titik pengamatan Cimahi telah menunjukkan penurunan rata‑rata 0,3–0,5 meter per tahun selama lima tahun terakhir.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Heri mengusulkan beberapa langkah mitigasi, antara lain:

  1. Penghentian atau pembatasan kegiatan eksploitasi tanah di zona kritis.
  2. Penerapan sistem penyerapan air hujan pada bangunan baru.
  3. Rehabilitasi lahan yang terdampak dengan penanaman kembali vegetasi asli.
  4. Peningkatan monitoring kualitas dan kuantitas air tanah secara berkelanjutan.

Pemerintah kota Cimahi diharapkan segera meninjau kebijakan tata ruang dan mengintegrasikan pertimbangan sumber daya air dalam rencana pembangunan. Kegagalan melakukan tindakan preventif dapat berujung pada krisis air bersih yang memengaruhi kesehatan publik, pertumbuhan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat.