Misteri Pamit Cari Ikan: Pria 45 Tahun Ditemukan Tewas di Sungai Opak Bantul
Misteri Pamit Cari Ikan: Pria 45 Tahun Ditemukan Tewas di Sungai Opak Bantul

Misteri Pamit Cari Ikan: Pria 45 Tahun Ditemukan Tewas di Sungai Opak Bantul

LintasWarganet.com – 03 April 2026 | Jumat, 31 Maret 2026, warga Desa Girisonta, Kecamatan Bantul, Yogyakarta, dikejutkan oleh laporan hilangnya seorang pria berusia 45 tahun yang tiba‑tiba menghilang setelah mengucapkan niat “pamit cari ikan” di tepi Sungai Opak. Pria yang dikenal sebagai Budi Santoso (nama samaran) diketahui pergi bersama seorang teman pada sore hari untuk memancing, namun tidak kembali hingga malam tiba.

Ketika sahabatnya melaporkan kejadian kepada pihak berwajib, Tim Penanganan Kejadian Darurat (TPKD) segera mengerahkan unit SAR (Search and Rescue) daerah Yogyakarta. Upaya pencarian dimulai dengan menelusuri aliran Sungai Opak yang dikenal memiliki arus deras pada musim hujan serta kedalaman yang tidak merata.

Timeline Penyelidikan

  • 18.00 WIB – Budi dan temannya tiba di tepi Sungai Opak, bersiap memancing.
  • 19.30 WIB – Teman melaporkan bahwa Budi menghilang setelah tiba‑tiba berjalan ke tengah sungai dan menghilang dari pandangan.
  • 20.00 WIB – Tim SAR dikerahkan, melakukan pencarian visual dan penggunaan perahu motor.
  • 22.00 WIB – Tim SAR menemukan jejak pakaian di tepi barat sungai, mengindikasikan kemungkinan terseret arus.
  • 02.00 WIB (31/03) – Badan SAR menemukan jasad Budi mengapung 1,8 km di hulu Sungai Opak, terjepit pada jaring penghalang yang dipasang petugas.

Jasad korban ditemukan dalam keadaan mengapung dan terjepit pada jaring penghalang yang dipasang oleh tim SAR untuk mempermudah penangkapan benda atau korban yang terbawa arus. Tim segera mengamankan jasad, mengangkatnya ke perahu, dan membawanya ke Posko SAR terdekat untuk dilakukan otopsi oleh tim forensik.

Menurut Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Kabupaten Bantul, Dr. Hadi Susanto, kondisi air Sungai Opak pada malam kejadian sangat keruh akibat hujan lebat yang turun sejak sore hari. “Kekeruhan air menyulitkan pencarian visual, sehingga tim harus mengandalkan sonar portable dan jaring penangkap,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa area pencarian meliputi wilayah seluas sekitar 3 km persegi, dengan medan yang berbukit‑bukit di sekitar aliran utama.

Polisi setempat membuka penyelidikan atas dugaan kecelakaan mati karena terjatuh ke dalam sungai. Mereka menegaskan tidak ada indikasi tindak kriminal, namun akan tetap memeriksa kemungkinan faktor kesehatan atau kelelahan yang menyebabkan korban kehilangan keseimbangan.

Kasus serupa baru-baru ini terjadi di Provinsi Sumatera Utara, di mana seorang pria berusia 50 tahun, Robert Sinamo, ditemukan tewas setelah dilaporkan hilang selama tujuh hari setelah terpeleset ke aliran Sungai Lae Une. Penemuan jasadnya juga terjadi setelah tim SAR menempelkan jaring penangkap, menunjukkan pola pencarian yang konsisten di wilayah dengan kondisi sungai yang menantang.

Komunitas lokal Bantul menanggapi tragedi ini dengan rasa duka yang mendalam. Banyak warga yang mengingat kembali tradisi memancing di Sungai Opak, namun kini menekankan pentingnya keselamatan, penggunaan pelampung, dan menghindari aktivitas memancing sendirian pada malam hari.

Petugas SAR menegaskan prosedur keselamatan yang harus dipatuhi oleh pemancing, antara lain: selalu membawa alat pelampung, menginformasikan lokasi keberadaan kepada orang terdekat, dan menghindari area dengan arus kuat. “Keselamatan pribadi adalah tanggung jawab utama, terutama di sungai yang memiliki perubahan arus secara tiba‑tiba,” kata Kapten SAR Yogyakarta, Andi Prasetyo.

Hasil otopsi sementara mengindikasikan penyebab kematian berupa trauma kepala akibat benturan keras dengan bebatuan sungai, serta asfiksia karena terperangkap dalam aliran air. Keluarga korban telah menerima jenazah dan akan melaksanakan upacara pemakaman secara adat dalam beberapa hari ke depan.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di lingkungan perairan. Pemerintah daerah berjanji akan meningkatkan fasilitas keselamatan di titik-titik rawan, termasuk pemasangan rambu peringatan, pos penjaga, dan pelatihan dasar pertolongan pertama bagi warga.

Dengan berakhirnya pencarian dan penemuan jasad, harapan kini terletak pada upaya preventif agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.