Menkes Ajak China Kerja Sama Cegah Tuberkulosis dan Produksi Obat Tradisional
Menkes Ajak China Kerja Sama Cegah Tuberkulosis dan Produksi Obat Tradisional

Menkes Ajak China Kerja Sama Cegah Tuberkulosis dan Produksi Obat Tradisional

LintasWarganet.com – 29 Maret 2026 | Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan ajakan kepada pemerintah China untuk memperdalam kerja sama di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan tuberkulosis (TB) dan pengembangan obat tradisional. Penyampaian tersebut dilakukan dalam sebuah pertemuan resmi yang berlangsung di Beijing, menandai langkah strategis kedua negara dalam menangani tantangan kesehatan global.

Indonesia masih menghadapi beban kasus TB yang signifikan, dengan ribuan kasus baru dilaporkan setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan angka kejadian TB melalui pendekatan multidisiplin, termasuk peningkatan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta inovasi dalam pencegahan. China, sebagai salah satu negara dengan kapasitas riset dan produksi obat tradisional yang kuat, diharapkan dapat menjadi mitra kunci dalam mempercepat agenda tersebut.

Berikut beberapa bidang kerja sama yang diusulkan:

  • Pencegahan Tuberkulosis: Pengembangan vaksin baru, program skrining massal, serta pelatihan tenaga medis dalam penanganan TB.
  • Obat Tradisional: Riset bersama tentang bahan baku herbal yang berpotensi sebagai adjuvan atau terapi komplementer untuk TB.
  • Bioteknologi: Transfer teknologi produksi biofarmaset, termasuk teknik kultur sel dan fermentasi.
  • Penguatan Sistem Kesehatan: Pertukaran pengalaman dalam manajemen program kesehatan nasional, khususnya dalam penanggulangan penyakit menular.

Kerja sama ini tidak hanya akan memperkuat kapasitas riset di Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekspor produk obat tradisional yang telah terstandarisasi. Di sisi lain, China dapat memperluas pasar bagi inovasi farmasi tradisionalnya, sekaligus berkontribusi pada pengurangan beban TB secara global.

Menteri Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan, dengan harapan tercipta jaringan ilmiah yang saling menguntungkan. Ia menutup pertemuan dengan harapan bahwa perjanjian kerja sama konkret akan segera dirumuskan, sehingga kedua negara dapat bersama-sama mewujudkan tujuan kesehatan yang lebih baik bagi rakyat masing‑masing.