Masjid Tertua Mosul Dibuka Kembali Saat Idul Fitri, Sementara Irak Gawat Krisis Bendungan dan Politik Turkmen di Kirkuk
Masjid Tertua Mosul Dibuka Kembali Saat Idul Fitri, Sementara Irak Gawat Krisis Bendungan dan Politik Turkmen di Kirkuk

Masjid Tertua Mosul Dibuka Kembali Saat Idul Fitri, Sementara Irak Gawat Krisis Bendungan dan Politik Turkmen di Kirkuk

LintasWarganet.com – 29 April 2026 | Masjid al‑Jami' al‑Qadim di Mosul, yang dikenal sebagai masjid tertua di kota itu, kembali melayani jamaah pada perayaan Idul Fitri meski masih menyisakan bekas‑bekas kerusakan akibat pertempuran yang menghancurkan wilayah tersebut pada 2017. Bangunan bersejarah yang hampir runtuh ini telah diperbaiki secara parsial oleh tim konservasi lokal dengan bantuan donor internasional, namun masih mempertahankan dinding‑dinding yang retak dan tiang‑tiang kayu yang diganti baru. Pada Sabtu pagi, ribuan warga Mosul berkumpul untuk melaksanakan salat Idul Fitri, menandai simbol harapan baru bagi kota yang selama hampir satu dekade terperosok dalam kehancuran.

Masjid Tertua Mosul Kembali Menjadi Pusat Ibadah

Selama tiga hari terakhir, para pekerja restorasi menyelesaikan pengerjaan atap yang bocor serta memperbaiki sistem pipa air yang sempat rusak. Meski masih ada bagian dinding yang belum selesai, otoritas kota memutuskan untuk mengizinkan penggunaan masjid pada hari raya karena kebutuhan spiritual masyarakat yang sangat mendesak. Imam masjid menegaskan, “Kita tidak hanya merayakan Idul Fitri, tetapi juga merayakan kebangkitan Mosul yang perlahan pulih.”

Damai dan Tantangan Infrastruktur: Bendungan Irak Hampir Penuh

Berbarengan dengan perayaan keagamaan, wilayah Irak menghadapi ancaman baru di sektor air. Beberapa bendungan utama, termasuk Bendungan Mosul Dam yang terkenal berbahaya, dilaporkan hampir mencapai kapasitas maksimum setelah curah hujan tinggi musim semi. Tingginya tingkat pengisian menimbulkan kekhawatiran tentang potensi luapan yang dapat menenggelamkan wilayah pedesaan di sekitar sungai Tigris dan Euphrates.

Pemerintah Irak mengeluarkan peringatan kepada penduduk setempat untuk bersiap menghadapi evakuasi darurat. Tim insinyur dari kementerian air menegaskan bahwa kontrol pintu air dan penurunan debit secara bertahap menjadi prioritas utama guna mencegah bencana banjir yang meluas.

Ancaman Bencana: Bendungan Berkapasitas Tinggi Dapat Menimbulkan Risiko Besar

Studi independen mengingatkan bahwa beberapa bendungan di Irak, terutama yang dibangun pada era Saddam Hussein, tidak dirancang untuk menahan volume air sebesar kini. Jika terjadi kegagalan struktural, dampaknya dapat meluas hingga menewaskan ratusan ribu hingga satu juta orang, tergantung pada lokasi pecahnya bendungan. Kondisi ini memperparah ketegangan politik di wilayah yang sudah rapuh, mengingat banyak komunitas etnis—termasuk Arab, Kurdi, Turkmen, dan Yezidi—berbagi wilayah yang rawan.

Politik Regional: Penunjukan Gubernur Turkmen di Kirkuk dan Implikasinya bagi Mosul

Di tengah krisis air, dinamika politik Irak juga mencuat kembali. Pada pertengahan April, Mohammed Samaan Agha, seorang tokoh Turkmen Irak, terpilih menjadi gubernur Kirkuk, menandai pertama kalinya seorang Turkmen memegang jabatan itu sejak pendirian kota pada 1924. Penunjukan ini dipuji oleh pemimpin Partai Gerakan Nasionalis Turki (MHP), Devlet Bahçeli, yang menyebutnya sebagai “titik balik historis” bagi keberadaan Turkmen di Irak.

Keputusan tersebut menimbulkan reaksi beragam. Partai KDP menolak proses pemilihan, sementara PUK melihatnya sebagai peluang untuk menyeimbangkan kekuasaan etnis di wilayah yang kaya minyak. Bagi Mosul, yang juga pernah menjadi bagian dari provinsi Mosul Ottoman, dinamika ini menambah lapisan kompleksitas dalam upaya rekonstruksi pasca‑konflik, terutama dalam hal alokasi sumber daya air yang kini semakin terbatas.

Para pengamat menilai bahwa stabilitas politik di Kirkuk dapat memengaruhi kebijakan pusat terkait pembangunan bendungan dan distribusi air. Jika pemerintah pusat berhasil menegosiasikan kesepakatan yang adil antara semua kelompok etnis, kemungkinan besar akan tercipta mekanisme manajemen air yang lebih transparan dan mengurangi risiko bencana.

Secara keseluruhan, Mosul kini berada di persimpangan antara pemulihan budaya dan ancaman lingkungan. Masjid al‑Jami' yang kembali melayani jamaah menjadi simbol kebangkitan spiritual, sementara tekanan pada bendungan menuntut kebijakan mitigasi yang cepat dan kolaboratif. Di sisi lain, perubahan politik di Kirkuk menunjukkan bahwa solusi jangka panjang bagi Irak tidak dapat dipisahkan dari dialog antaretnis dan penataan ulang infrastruktur kritis.

Jika upaya rekonstruksi, pengelolaan air, dan stabilitas politik dapat selaras, Mosul berpotensi menjadi contoh keberhasilan pemulihan pasca‑konflik yang menginspirasi wilayah lain di Timur Tengah.