Masa Depan Pasar Negara Berkembang: Lebih dari Sekadar Pertumbuhan Ekonomi
Masa Depan Pasar Negara Berkembang: Lebih dari Sekadar Pertumbuhan Ekonomi

Masa Depan Pasar Negara Berkembang: Lebih dari Sekadar Pertumbuhan Ekonomi

LintasWarganet.com – 04 Juni 2026 | Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menegaskan dalam pidatonya di The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak lagi cukup untuk menilai keberhasilan pembangunan, terutama di negara‑negara berkembang yang kini dihadapkan pada ketimpangan yang melebar, menurunnya kepercayaan publik, dan fragmentasi sosial. Ia menambahkan bahwa tantangan utama adalah menciptakan pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Data IMF: Proyeksi Ekonomi Global hingga 2031

Data terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa tujuh negara diproyeksikan memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) nominal terbesar pada tahun 2031. Meskipun daftar tersebut didominasi oleh ekonomi maju, Indonesia menonjol sebagai contoh utama pasar negara berkembang yang menunjukkan pertumbuhan persentase tertinggi di antara mereka.

No Negara PDB 2026 (USD Triliun) PDB 2031 (USD Triliun) Pertumbuhan (%)
1 Amerika Serikat 32,38 39,03 20,5
2 Tiongkok 20,85 27,50 31,9
3 India 4,15 6,79 63,5
4 Jerman 5,45 6,35 16,5
5 Inggris 4,26 5,40 26,7
6 Jepang 4,38 5,13 17,1
7 Prancis 3,60 4,12 14,5
Indonesia 1,54 2,25 45,8

Indonesia, dengan PDB 2026 sebesar USD 1,54 triliun, diproyeksikan mencapai USD 2,25 triliun pada 2031 – lonjakan 45,8 persen yang melampaui semua negara maju dalam daftar tersebut. Proyeksi pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 didorong oleh konsumsi domestik yang kuat, kebijakan fiskal yang mendukung, serta investasi dan ekspor neto yang stabil.

Implikasi bagi Pasar Negara Berkembang

  • Ketahanan Pertumbuhan: SBY menekankan pentingnya membangun ketahanan ekonomi. Bagi negara berkembang, ini berarti diversifikasi sumber pendapatan, memperkuat sektor riil, dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tradisional.
  • Inklusi Sosial: Tingginya pertumbuhan PDB tidak otomatis menurunkan ketimpangan. Kebijakan redistribusi, peningkatan akses pendidikan, dan layanan kesehatan menjadi kunci untuk memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan luas.
  • Keberlanjutan Lingkungan: Investasi hijau dan transisi energi bersih kini menjadi prasyarat bagi akses ke pasar modal internasional. Negara berkembang yang gagal mengintegrasikan agenda hijau berisiko kehilangan dana investasi.
  • Inovasi dan Teknologi: Persaingan global semakin beralih pada kemampuan digital. Indonesia telah mencatat pertumbuhan startup fintech dan e‑commerce yang dapat menjadi motor penggerak baru bagi PDB.

Data IMF juga mengingatkan bahwa meski India menunjukkan pertumbuhan persentase tertinggi di antara negara‑negara utama, tantangannya tetap pada penyediaan infrastruktur, reformasi regulasi, dan penurunan kemiskinan. Begitu pula China, yang meski tetap berada di posisi kedua, menghadapi tekanan di sektor properti dan beban keuangan daerah.

Strategi Indonesia Menuju Pasar yang Lebih Kompetitif

Menjawab panggilan SBY, pemerintah Indonesia telah merancang serangkaian inisiatif, antara lain:

  1. Penguatan kebijakan fiskal melalui peningkatan basis pajak dan reformasi insentif untuk sektor manufaktur.
  2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
  3. Pembangunan infrastruktur logistik di wilayah Indonesia Timur untuk mengurangi disparitas wilayah.
  4. Pengembangan ekosistem digital yang mendukung fintech, agritech, dan industri 4.0.
  5. Implementasi agenda hijau, termasuk target energi terbarukan 23% pada 2025 dan program penanaman kembali hutan.

Langkah‑langkah tersebut diharapkan tidak hanya menambah angka PDB, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, menurunkan ketimpangan, dan meningkatkan daya tahan ekonomi terhadap guncangan eksternal seperti fluktuasi harga komoditas atau ketegangan geopolitik.

Secara keseluruhan, pasar negara berkembang berada pada persimpangan penting: pertumbuhan ekonomi harus bersamaan dengan kebijakan inklusif dan berkelanjutan. Indonesia, dengan proyeksi pertumbuhan yang mengesankan, dapat menjadi contoh bagi negara‑negara lain bila mampu mengimplementasikan strategi yang menyeimbangkan kecepatan, keadilan, dan keberlanjutan.