Korban Disiksa Selama 3 Tahun, Mengapa Tak Melawan? Ini Penjelasan Psikolog!
Korban Disiksa Selama 3 Tahun, Mengapa Tak Melawan? Ini Penjelasan Psikolog!

Korban Disiksa Selama 3 Tahun, Mengapa Tak Melawan? Ini Penjelasan Psikolog!

LintasWarganet.com – 26 Juni 2026 | Seorang wanita mengungkapkan bahwa ia mengalami penyiksaan secara fisik dan mental selama tiga tahun oleh pasangannya. Kasus ini menarik perhatian publik karena korban tampak tidak berusaha melawan atau keluar dari hubungan yang penuh kekerasan.

Penjelasan psikolog

Stephani Raihana Hamdan, dosen Psikologi di Universitas Islam Bandung, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan contoh abusive relationship yang kompleks. Menurutnya, ada beberapa faktor psikologis yang membuat korban sulit untuk melawan:

  • Trauma bonding: Ikatan emosional yang terbentuk karena siklus kekerasan dan kasih sayang sementara membuat korban merasa terikat.
  • Learned helplessness: Setelah berulang kali mengalami kekerasan, korban mulai percaya bahwa tidak ada cara untuk mengubah situasi.
  • Ketakutan akan konsekuensi: Ancaman fisik, psikologis, atau ekonomi dapat membuat korban memilih diam demi menghindari bahaya yang lebih besar.
  • Stigma sosial dan rasa malu: Budaya yang menyalahkan korban sering membuat mereka enggan melaporkan atau mencari bantuan.
  • Keterbatasan dukungan: Kurangnya jaringan sosial atau layanan perlindungan dapat memperparah rasa terisolasi.

Strategi pemulihan

Untuk membantu korban keluar dari siklus kekerasan, psikolog merekomendasikan beberapa langkah:

  1. Mengidentifikasi pola kekerasan dan mengakui bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
  2. Mencari dukungan dari keluarga, teman, atau layanan konseling profesional.
  3. Menghubungi lembaga perlindungan perempuan atau layanan darurat yang dapat menyediakan tempat aman.
  4. Membangun kemandirian finansial melalui pelatihan atau pendidikan.
  5. Terapi jangka panjang untuk memulihkan trauma dan membangun kembali rasa percaya diri.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua korban kekerasan dapat atau ingin melawan secara langsung. Pemahaman psikologis membantu masyarakat dan pihak berwenang memberikan respons yang lebih empatik dan efektif.