Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata RI, Kemenpar Buka Pasar Baru di Asia dan Oceania
Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata RI, Kemenpar Buka Pasar Baru di Asia dan Oceania

Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata RI, Kemenpar Buka Pasar Baru di Asia dan Oceania

LintasWarganet.com – 21 Mei 2026 | Konflik yang sedang berkecamuk di wilayah Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bagi sektor pariwisata Indonesia. Ketegangan geopolitik, serangan roket, dan ketidakstabilan keamanan dapat mempengaruhi arus wisatawan internasional yang biasanya melewati rute transit atau mengunjungi destinasi di Indonesia.

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenpar) mengumumkan strategi diversifikasi pasar. Pemerintah berencana membuka akses wisatawan mancanegara dari tiga kawasan strategis: Asia Tenggara, Asia Timur, serta wilayah Oceania.

  • Asia Tenggara: Fokus pada negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang memiliki koneksi penerbangan langsung ke Indonesia.
  • Asia Timur: Target utama meliputi Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, yang sebelumnya menyumbang sebagian besar kunjungan wisatawan asal Asia.
  • Oceania: Mengincar Australia dan Selandia Baru, serta negara‑kecil di Pasifik yang memiliki potensi pertumbuhan wisatawan premium.

Strategi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional dan menyeimbangkan aliran wisatawan ketika situasi di Timur Tengah memperburuk persepsi keamanan. Kemenpar juga menyiapkan paket promosi khusus, peningkatan layanan digital, serta kerjasama dengan maskapai penerbangan untuk memperluas jaringan rute.

Selain itu, kementerian berupaya memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi aman dan ramah. Upaya tersebut meliputi peningkatan standar keamanan di bandara, pelatihan bagi pelaku industri hospitality, serta kampanye internasional yang menonjolkan keunikan budaya, alam, dan kuliner.

Jika strategi ini berhasil, diperkirakan kunjungan wisatawan mancanegara dapat meningkat 10‑15% dalam dua tahun ke depan, meski risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang harus dipantau secara berkelanjutan.