Ketimpangan MBG Masih Terasa, Wilayah Rawan Stunting Belum Sepenuhnya Tersentuh

LintasWarganet.com – 11 Mei 2026 | Ketimpangan dalam pencapaian target Minimum Badan Gizi (MBG) masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Meskipun sejumlah provinsi telah menunjukkan perbaikan, wilayah yang rawan stunting belum sepenuhnya terjangkau.

Data terbaru menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mendominasi dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi, yakni sekitar 37 % dari total anak di bawah lima tahun. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menandakan kebutuhan intervensi yang mendesak.

Berikut beberapa provinsi dengan tingkat stunting di atas 30 %:

  • Nusa Tenggara Timur – 37 %
  • Maluku – 33 %
  • Papua – 32 %

Sementara itu, provinsi lain seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Bali telah berhasil menurunkan prevalensi stunting di bawah 10 %, mencerminkan keberhasilan program gizi berbasis wilayah.

Faktor penyebab ketimpangan tersebut meliputi kurangnya akses layanan kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, serta keterbatasan infrastruktur pangan yang berkualitas. Pemerintah berencana memperkuat program pemberian makanan tambahan, meningkatkan edukasi gizi, dan memperluas jaringan posyandu di daerah‑daerah terdampak.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga non‑pemerintah, dan sektor swasta diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting, terutama di wilayah-wilayah dengan prevalensi tertinggi.