Kakek Mujiran Akui Curi 2 Karung Getah Karet Senilai Rp 1,76 Juta, Bukan Gelapkan 10 Karung Sebesar Rp 8,8 Juta
Kakek Mujiran Akui Curi 2 Karung Getah Karet Senilai Rp 1,76 Juta, Bukan Gelapkan 10 Karung Sebesar Rp 8,8 Juta

Kakek Mujiran Akui Curi 2 Karung Getah Karet Senilai Rp 1,76 Juta, Bukan Gelapkan 10 Karung Sebesar Rp 8,8 Juta

LintasWarganet.com – 23 Mei 2026 | Seorang warga berusia 72 tahun yang dikenal sebagai Kakek Mujiran mengaku terpaksa mengambil dua karung getah karet milik PT Perkebunan Tropika (PTPN) I dengan nilai total Rp 1.760.000. Pengakuan itu muncul setelah ia dipanggil untuk diinterogasi oleh petugas keamanan perusahaan.

Kakek Mujiran menjelaskan bahwa tindakan pencurian tersebut dilandasi kebutuhan mendesak untuk membeli beras bagi istri dan cucunya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ia menegaskan bahwa tidak ada motif untuk menggelapkan sepuluh karung getah karet senilai Rp 8,8 juta yang sebelumnya menjadi spekulasi publik.

Berikut rangkaian fakta utama terkait kasus ini:

  • Usia pelaku: 72 tahun.
  • Barang yang diambil: Dua karung getah karet masing‑masing senilai Rp 880.000.
  • Nilai total barang: Rp 1.760.000.
  • Motif: Membeli beras untuk kebutuhan keluarga.
  • Pihak yang mengungkap: Keamanan PTPN I setelah menemukan kekurangan stok pada gudang.

PTPN I, yang merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia, mengelola sejumlah lahan karet di wilayah Jawa Tengah. Getah karet merupakan komoditas penting bagi industri manufaktur ban dan produk karet lainnya. Kerugian materiil yang dilaporkan oleh perusahaan akibat kejadian ini diperkirakan sebesar Rp 1,76 juta, angka yang relatif kecil bila dibandingkan dengan total produksi tahunan perusahaan.

Pihak keamanan PTPN I menyatakan bahwa proses investigasi masih berlangsung dan akan melibatkan pihak kepolisian setempat untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Sementara itu, Kakek Mujiran mengaku menyesal atas perbuatannya dan berharap dapat diberikan kesempatan untuk memperbaiki kondisi keluarganya tanpa harus kembali melakukan tindakan serupa.

Kasus ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat tentang beban ekonomi lansia dan ketersediaan bantuan sosial bagi keluarga berpenghasilan rendah. Beberapa organisasi non‑pemerintah menyoroti pentingnya program bantuan pangan yang dapat mencegah situasi serupa terulang kembali.