Ikan Sapu-sapu 'Kuasai' Aliran Kali Cideng: Penangkapan Besar-besaran Pemkot Jakarta Pusat
Ikan Sapu-sapu 'Kuasai' Aliran Kali Cideng: Penangkapan Besar-besaran Pemkot Jakarta Pusat

Ikan Sapu-sapu ‘Kuasai’ Aliran Kali Cideng: Penangkapan Besar-besaran Pemkot Jakarta Pusat

LintasWarganet.com – 10 April 2026 | Jakarta Pusat – Pada Jumat, 10 April 2026, Pemerintah Kota Jakarta Pusat bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melancarkan aksi bersih–bersih kali Cideng yang mengalir tepat di depan Plaza Indonesia. Aksi ini menargetkan populasi ikan sapu–sapu (Chitala spp.) yang selama ini “menguasai” aliran sungai, merusak struktur turap, serta mengandung bakteri patogen dan logam berat.

Skala Penangkapan dan Tim Gabungan

Secara total, lebih dari 100 personel dari berbagai unsur, termasuk Sudin SDA, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup, PPSU, serta unit Gulkarmat, dikerahkan untuk menyisir sepanjang 300 meter kawasan Menteng–Sudirman. Dalam operasi satu hari tersebut, petugas berhasil mengamankan 40 ekor ikan sapu–sapu berukuran besar. Ikan–ikan tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara mematahkan bagian tubuhnya, mengingat spesies ini dapat bertahan hidup tanpa berada di dalam air selama beberapa jam.

Temuan Laboratorium: Bahaya Kesehatan

Tim KPKP melakukan sampling air dan jaringan ikan secara simultan. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa ikan sapu–sapu mengandung:

  • Salmonella spp. dan Escherichia coli (E. coli) di atas ambang batas aman bagi konsumsi manusia.
  • Residu logam berat, termasuk merkuri (Hg) dan timbal (Pb), yang melampaui standar kualitas air yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Keberadaan bakteri patogen dan logam berat menjadikan ikan ini bukan hanya ancaman bagi ekosistem perairan, tetapi juga potensi bahaya bagi warga yang secara tidak sengaja mengonsumsi atau mengolahnya.

Prosedur Penanganan dan Pemusnahan

Setelah penangkapan, seluruh bangkai ikan dipindahkan ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur. Di fasilitas tersebut, bangkai diolah menjadi bahan baku kompos yang telah melalui proses sterilisasi, atau bila tidak memungkinkan, dibuang ke tempat pemusnahan khusus. Proses ini bertujuan mencegah penyebaran bakteri dan logam berat ke lingkungan masyarakat sekitar.

Motivasi dan Langkah Selanjutnya

Penangkapan di Kali Cideng merupakan lanjutan dari program serupa yang berhasil menurunkan populasi ikan sapu–sapu di aliran Kali Ciliwung. Kepala Dinas KPKP, Hasudungan A. Sidabalok, menekankan bahwa karakteristik saluran Kali Cideng yang lebih pendek memudahkan kontrol populasi ikan invasif. “Jika aliran tidak terlalu panjang, upaya pengendalian menjadi lebih efektif dan biaya operasional dapat ditekan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, yang memimpin langsung kegiatan, menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat. Ia memperingatkan warga untuk tidak memanfaatkan ikan sapu–sapu sebagai bahan pangan atau pakan ternak, mengingat tingkat kontaminasinya yang tinggi.

Implikasi Lingkungan dan Kebijakan Publik

Populasi ikan sapu–sapu yang meningkat dipicu oleh perubahan aliran sungai, pencemaran limbah industri, dan kurangnya predasi alami. Tanpa intervensi, ikan ini dapat menumpuk di turap, menghambat aliran air, meningkatkan risiko banjir, serta mengubah struktur habitat bagi spesies endemik.

Pemerintah kota menyiapkan kebijakan jangka panjang meliputi:

  1. Peningkatan kualitas air melalui penertiban industri dan pengelolaan limbah domestik.
  2. Pengawasan rutin populasi ikan invasif dengan tim surveilans khusus.
  3. Edukasi publik melalui kampanye “Jaga Air, Jaga Kesehatan”.
  4. Kerjasama dengan lembaga penelitian untuk mengembangkan metode biologi pengendalian yang ramah lingkungan.

Dengan langkah terkoordinasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, diharapkan aliran Kali Cideng dapat kembali bersih, aman, dan berfungsi optimal sebagai bagian dari sistem drainase kota. Upaya ini sekaligus menjadi contoh konkret penanganan masalah ekologi perkotaan yang dapat diterapkan di wilayah lain.