Harga Minyak Dunia Naik Tipis Usai Gencatan Senjata Israel-Iran, Dampak pada BBM, Rupiah, dan Emas
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Usai Gencatan Senjata Israel-Iran, Dampak pada BBM, Rupiah, dan Emas

Harga Minyak Dunia Naik Tipis Usai Gencatan Senjata Israel-Iran, Dampak pada BBM, Rupiah, dan Emas

LintasWarganet.com – 10 Juni 2026 | Perdagangan awal Selasa 9 Juni 2026 menunjukkan pergerakan harga minyak dunia yang kembali naik tipis setelah Iran dan Israel menghentikan serangan satu sama lain, meskipun ketegangan masih menyisakan risiko geopolitik. Brent naik 13 sen menjadi US$94,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 11 sen ke US$91,41 per barel. Kenaikan ini menandai pergerakan balik setelah penurunan tajam pada minggu sebelumnya ketika gencatan senjata dipicu seruan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dinamika Harga Minyak Global

Harga Brent dan WTI sempat mengalami lonjakan hingga lima persen pada sesi sebelumnya setelah laporan serangan kembali antara Israel dan Iran serta konflik di Lebanon. Namun, pernyataan militer Iran yang menyatakan berakhirnya operasi militer terhadap Israel menurunkan ketegangan, memicu penurunan harga. Analisis pasar mengaitkan volatilitas ini dengan dua faktor utama: pertama, potensi pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar satu per lima pasokan minyak dunia; kedua, kebijakan blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker yang mencoba memasuki pelabuhan Iran, yang menambah ketidakpastian pasokan.

Dampak pada Harga BBM di Indonesia

Pergerakan harga minyak mentah global berdampak langsung pada kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Pada 10 Juni 2026, PT Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, meningkat Rp3.950. Harga Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini merupakan penyesuaian pertama sejak lonjakan harga minyak dunia pada akhir Februari 2026, ketika konflik Israel‑Iran memicu gejolak pasar energi. Sementara BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter, selisih antara BBM bersubsidi dan non‑subsidi semakin melebar, menambah beban konsumen yang beralih ke bahan bakar premium untuk efisiensi kendaraan.

Pengaruh Terhadap Nilai Rupiah dan Komoditas Lain

Fluktuasi harga minyak juga memengaruhi nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah melemah ke sekitar Rp18.160 per dolar AS, berada dalam kisaran Rp18.100‑18.200 yang diprediksi analis. Penurunan nilai rupiah dipicu oleh sentimen domestik yang masih lemah, meski potensi penurunan harga minyak dapat menjadi penopang penguatan mata uang. Sebaliknya, pasar logam mulia menunjukkan penurunan. Harga emas spot turun menjadi US$4.327,96 per troy ons, sementara emas berjangka turun 0,3 persen ke US$4.351,50 per troy ons. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya dolar AS dan ekspektasi data inflasi AS yang akan datang, yang dapat mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih lanjut. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas.

Secara keseluruhan, pasar energi global berada pada titik keseimbangan yang rapuh antara harapan gencatan senjata di Timur Tengah dan tekanan permintaan yang masih tinggi. Kenaikan tipis harga minyak pada 9 Juni mencerminkan optimisme sementara, namun volatilitas tetap tinggi mengingat potensi konflik kembali menyala. Dampak langsung terlihat pada kenaikan harga BBM di Indonesia, melemahnya rupiah, serta penurunan harga emas sebagai safe‑haven. Pengamat memperkirakan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz berkurang dan produksi minyak OPEC tetap stabil, harga minyak dapat kembali menurun, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat dan mengurangi beban pada konsumen BBM. Namun, setiap eskalasi militer baru di kawasan tersebut dapat segera memicu lonjakan harga kembali, menambah tekanan pada ekonomi domestik yang sudah tertekan oleh inflasi dan kebijakan moneter global.