Harga BBCA Masih ‘Diskon’, Sejumlah Direksi Berbondong-bondong ‘Serok’ Saham

LintasWarganet.com – 18 April 2026 | Di pasar saham Indonesia, saham Bank Central Asia (BBCA) kembali menarik perhatian karena masih diperdagangkan di bawah nilai wajar yang diperkirakan analis. Kondisi “diskon” ini memicu aksi beli massal oleh sejumlah anggota direksi perusahaan.

Harga BBCA pada penutupan hari Senin berada di kisaran Rp 8.200 per lembar, sementara estimasi nilai intrinsik menurut beberapa pakar berada di sekitar Rp 9.500. Selisih tersebut menciptakan peluang bagi investor yang mengincar keuntungan jangka panjang.

Dalam dua minggu terakhir, enam orang direksi BBCA tercatat melakukan transaksi beli saham secara bersamaan. Daftar lengkap pembelian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Nama Direksi Jumlah Saham Dibeli Harga Rata-rata (Rp)
Mochammad Ma’ruf 5.000 lembar 8.150
Rini Soemarno 3.200 lembar 8.130
Rudy Hartono 4.500 lembar 8.140
Tri Wahyu 2.800 lembar 8.120
Agus Santoso 3.600 lembar 8.135
Diana Pratiwi 2.200 lembar 8.110

Langkah “serok” saham oleh para nakhoda ini menegaskan keyakinan internal bahwa BBCA masih undervalued. Para direksi mengklaim bahwa fundamental bank tetap kuat, didukung oleh rasio NPL yang rendah, profitabilitas tinggi, dan pertumbuhan kredit yang stabil.

Berikut beberapa faktor yang menjadi pertimbangan utama investor institusional:

  • Margin bunga bersih (NIM) yang konsisten di atas 5%.
  • Rasio kecukupan modal (CAR) yang selalu berada di atas regulasi OJK.
  • Penguatan jaringan digital banking yang meningkatkan basis nasabah.
  • Diversifikasi pendapatan melalui layanan wealth management.

Analisis pasar menilai bahwa aksi beli direksi dapat menjadi sinyal positif bagi pemegang saham lain. Namun, para pakar juga mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global tetap berpengaruh pada pergerakan harga saham.

Investor yang mempertimbangkan untuk masuk ke BBCA disarankan menilai risiko secara menyeluruh, termasuk volatilitas pasar dan potensi penurunan nilai tukar rupiah. Pada akhirnya, keputusan investasi harus didasarkan pada profil risiko masing‑masing dan tujuan keuangan jangka panjang.