GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh
GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

GoPro Sekarat: Dari Bintang Wall Street Rp198 Triliun Jadi Saham Receh

LintasWarganet.com – 09 Juni 2026 | GoPro, merek kamera aksi yang pernah menjadi sorotan utama di Wall Street dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp198 triliun, kini berada di ambang kebangkrutan. Pada awal 2014 perusahaan ini melantai di bursa saham Amerika Serikat (NASDAQ) dengan antusiasme tinggi, namun beberapa tahun kemudian nilai sahamnya merosot drastis hingga menjadi “saham receh” yang diperdagangkan dengan harga beberapa sen per lembar.

Beberapa faktor utama yang memicu penurunan ini antara lain:

  • Pergeseran permintaan konsumen ke smartphone yang kini dilengkapi kamera berkualitas tinggi, mengurangi kebutuhan akan kamera aksi terpisah.
  • Kegagalan peluncuran produk baru yang tidak dapat memenuhi ekspektasi pasar, seperti GoPro Hero 4 dan GoPro Karma.
  • Masalah likuiditas yang berulang, termasuk penurunan kas dan peningkatan beban utang.
  • Strategi diversifikasi yang tidak berhasil, misalnya upaya masuk ke segmen drone yang berakhir dengan penjualan unit drone kepada perusahaan lain.

Pada kuartal terakhir 2023, manajemen GoPro mengirimkan surat kepada para pemegang saham yang mengungkapkan kekhawatiran serius. Dalam surat tersebut, CEO mengakui bahwa perusahaan “mungkin tidak sanggup bertahan 12 bulan ke depan” tanpa restrukturisasi keuangan yang signifikan atau suntikan modal tambahan.

Berikut rangkaian kronologis singkat yang menandai kemunduran GoGoPro:

  1. 2014 – IPO sukses, nilai pasar mencapai Rp198 triliun.
  2. 2015‑2016 – Penurunan penjualan akibat kompetisi smartphone, nilai saham turun 30%.
  3. 2017 – Peluncuran GoPro Karma (drone) gagal, perusahaan menutup divisi tersebut.
  4. 2019 – Penurunan cash flow, perusahaan mengumumkan pemotongan biaya operasional sebesar 15%.
  5. 2021 – Harga saham menembus level di bawah $2 per lembar, masuk dalam daftar “saham receh”.
  6. 2023 – Surat peringatan kepada investor, potensi kebangkrutan dalam 12 bulan.

Implikasi bagi investor sangat signifikan. Pemegang saham institusional yang sebelumnya menganggap GoPro sebagai “growth stock” kini menghadapi kerugian nilai investasi yang sangat besar. Selain itu, penurunan nilai pasar GoPro mencerminkan risiko tinggi pada perusahaan teknologi yang bergantung pada satu lini produk utama.

Para analis pasar menyarankan beberapa langkah bagi investor yang masih memiliki posisi di GoPro:

  • Mengurangi eksposur dengan menjual sebagian atau seluruh saham yang dimiliki.
  • Mencari peluang investasi alternatif di sektor teknologi yang lebih diversifikasi.
  • Memantau laporan keuangan selanjutnya untuk mengidentifikasi kemungkinan restrukturisasi atau akuisisi.

Ke depan, masa depan GoPro masih sangat tidak pasti. Tanpa strategi inovasi yang kuat, diversifikasi produk yang relevan, serta perbaikan struktur keuangan, perusahaan berisiko melanjutkan penurunan hingga akhirnya likuidasi. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi startup teknologi dan investor tentang pentingnya adaptasi cepat terhadap perubahan pasar.