Gempa Magnitudo 6,7 Mengguncang Sulawesi Tengah, Dampak Luas hingga Poso dan Sigi
Gempa Magnitudo 6,7 Mengguncang Sulawesi Tengah, Dampak Luas hingga Poso dan Sigi

Gempa Magnitudo 6,7 Mengguncang Sulawesi Tengah, Dampak Luas hingga Poso dan Sigi

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa 16 Juni 2026, diikuti oleh gempa susulan magnitudo 5,1 yang berpusat di Poso pada dini hari Rabu 17 Juni 2026. Guncangan tersebut dirasakan di delapan kabupaten sekaligus menimbulkan kerusakan pada bangunan publik, rumah warga, serta menimbulkan tantangan operasional bagi layanan kesehatan dan penanggulangan bencana.

Kekuatan Gempa dan Lokasi Episentrum

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa utama terjadi pukul 11.27 WITA dengan kedalaman sekitar 10 kilometer di daerah tenggara Palu. Episentrum berada sekitar 42 km tenggara Palu, sementara gempa susulan pada pukul 01:29:38 WIB keesokan harinya berpusat 54 km barat laut Poso (koordinat 1.14 LS, 120.33 BT). Kedua gempa dikategorikan tidak berpotensi tsunami, namun kedalaman yang relatif dangkal membuat getaran terasa kuat dan meluas.

Kerusakan pada Infrastruktur Publik

Gempa M 6,7 menyebabkan plafon lobi Kantor Bupati Sigi ambruk, retakan pada dinding, serta kerusakan pada beberapa gedung pemerintahan. Satpol PP dan tim pemadam kebakaran berada di lokasi saat kejadian, namun beruntung tidak ada korban jiwa. Di Universitas Tadulako (Untad) Palu, beberapa gedung termasuk Rektorat, Media Center, Auditorium, serta rumah sakit kampus mengalami retakan, material lepas, dan sebagian plafon runtuh. Rektor Untad, Prof. Amar, memastikan tidak ada luka-luka serius di antara civitas akademika.

Di Palu, getaran gempa dirasakan hingga delapan kabupaten, memicu evakuasi mandiri warga ke tempat terbuka. Beberapa jalan utama mengalami longsor, mengakibatkan empat titik jalan tertutup sehingga akses bantuan menjadi terhambat. Di Kabupaten Sigi, rumah-rumah warga mengalami kerusakan pada dinding, atap, dan struktur bangunan, sementara di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, warga membutuhkan tenda, terpal, dan pasokan air bersih.

Respons Pemerintah dan Layanan Kesehatan

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Lamadjido, melakukan inspeksi langsung ke fasilitas kesehatan strategis seperti RS Undata Palu, RS Madani, RS Anutapura, dan RS Torabelo. Ia memastikan layanan medis tetap beroperasi normal, tenaga medis siaga, dan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Pemerintah Provinsi melalui BPBD mengerahkan alat berat untuk membuka jalan yang tersumbat, mendirikan tenda darurat, menyalurkan logistik, serta mengoperasikan dapur umum. Tim medis diposisikan di titik-titik rawan untuk mengantisipasi risiko kesehatan pascabencana.

Selain itu, pihak kepolisian dan pemadam kebakaran terus memantau potensi gempa susulan. BMKG terus memperbaharui informasi seputar aktivitas seismik, sementara aparat setempat mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap longsor dan bahaya sekunder.

Gempa Susulan dan Potensi Tsunami

Setelah gempa utama, gempa susulan magnitudo 2,1 tercatat di Blang Pidie, Aceh Barat Daya pada pukul 01:32:43 WIB, menandakan aktivitas tektonik yang masih aktif di wilayah Indonesia. BMKG menegaskan tidak ada ancaman tsunami dari gempa di Sulawesi Tengah, namun memperingatkan kemungkinan gempa susulan yang dapat memperparah kerusakan struktural.

Secara keseluruhan, respons cepat pemerintah daerah, kesiapan layanan kesehatan, serta koordinasi dengan BMKG membantu menahan dampak yang lebih luas. Namun, proses pemulihan masih memerlukan waktu, khususnya untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, membuka kembali jalur transportasi yang tersumbat, dan menyediakan bantuan jangka panjang bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.