Geger Foto Tugu Pasangkayu Roboh Pascagempa, Ternyata Hasil Rekayasa AI
Geger Foto Tugu Pasangkayu Roboh Pascagempa, Ternyata Hasil Rekayasa AI

Geger Foto Tugu Pasangkayu Roboh Pascagempa, Ternyata Hasil Rekayasa AI

LintasWarganet.com – 16 Juni 2026 | Beberapa hari terakhir, warganet di wilayah Mamuju dikejutkan oleh serangkaian foto dan video yang menunjukkan Tugu Pasangkayu tampak roboh setelah gempa bumi yang terjadi pada 21 September 2024. Gambar-gambar tersebut menampilkan tiang tugu yang melengkung, bangunan di sekitarnya retak, serta warga yang berlarian panik. Awalnya, banyak yang mengira kejadian tersebut merupakan dampak nyata dari gempa, sehingga menimbulkan kepanikan dan spekulasi luas di media sosial.

Namun, setelah dilakukan pengecekan oleh tim verifikasi digital, terungkap bahwa visual tersebut adalah hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Algoritma generatif yang populer saat ini mampu menciptakan gambar realistis dengan mengolah data visual yang ada, sehingga sulit dibedakan dengan foto asli.

Berikut rangkaian langkah yang dilakukan oleh tim verifikasi untuk mengidentifikasi manipulasi tersebut:

  • Pemeriksaan metadata: File gambar tidak memiliki data GPS atau informasi eksposur yang konsisten dengan foto-foto lain yang diambil di lokasi yang sama.
  • Analisis piksel: Terdeteksi adanya perbedaan pola noise pada area tugu yang tidak selaras dengan latar belakang.
  • Perbandingan dengan footage resmi: Video rekaman dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan tugu tetap berdiri utuh setelah gempa.
  • Pengujian AI detection tools: Alat pendeteksi deepfake menandai gambar sebagai kemungkinan buatan AI dengan skor kepercayaan tinggi.

Penggunaan AI untuk menciptakan konten palsu bukan hal baru, namun kasus ini menyoroti potensi bahaya ketika informasi visual disebarkan tanpa verifikasi. Dampaknya meliputi:

  • Menimbulkan kepanikan publik dan menambah beban psikologis pada korban bencana.
  • Menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media resmi dan lembaga penanggulangan bencana.
  • Menyulitkan proses koordinasi bantuan karena otoritas harus mengklarifikasi kebenaran visual yang beredar.

Pihak berwenang, termasuk Kepala BPBD Mamuju, menegaskan bahwa tidak ada kerusakan struktural pada Tugu Pasangkayu akibat gempa tersebut. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan gambar yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi.

Kasus ini juga menjadi peringatan bagi platform media sosial untuk meningkatkan mekanisme deteksi konten manipulasi. Beberapa platform telah mengumumkan rencana pembaruan algoritma pendeteksi deepfake guna mempercepat penandaan konten berbahaya.

Sebagai langkah preventif, ahli teknologi merekomendasikan publik untuk:

  1. Menggunakan aplikasi verifikasi gambar yang tersedia secara gratis.
  2. Memeriksa sumber asal konten sebelum membagikannya.
  3. Mengikuti akun resmi lembaga penanggulangan bencana untuk informasi terkini.

Dengan meningkatnya kemampuan AI dalam menghasilkan visual yang meyakinkan, peran edukasi literasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat diharapkan dapat membedakan antara fakta dan fiksi, terutama dalam situasi krisis yang sensitif.