El Niño 2026 Diprediksi Moderat, Ancaman Kekeringan dan Kebakaran Lahan Meningkat: Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi
El Niño 2026 Diprediksi Moderat, Ancaman Kekeringan dan Kebakaran Lahan Meningkat: Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi

El Niño 2026 Diprediksi Moderat, Ancaman Kekeringan dan Kebakaran Lahan Meningkat: Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi

LintasWarganet.com – 26 Mei 2026 | Fenomena iklim El Niño yang diprediksi muncul pada pertengahan tahun 2026 kembali menjadi sorotan utama lembaga riset dan badan meteorologi Indonesia. Para pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa meski El Niño 2026 akan terjadi, peluang terjadinya varian super kuat yang disebut “Godzilla El Niño” sangat kecil. Model iklim global memperkirakan anomali suhu laut di Samudra Pasifik tengah‑timur hanya mencapai 1–1,5 °C, menempatkan fenomena ini pada level moderat.

Prediksi dan Penjelasan Pakar

Menurut peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan bahwa kategori super kuat biasanya ditandai anomali suhu laut di atas 2 °C, seperti yang terjadi pada tahun 1997‑1998 dan 2015‑2016. Karena nilai prediksi 2026 berada di bawah ambang tersebut, dampak ekstrem diperkirakan terbatas pada penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara di wilayah Indonesia.

Prediksi BMKG dan Risiko Karhutla

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño akan mulai memengaruhi cuaca pada bulan Mei‑Juli 2026. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyebut peluang terjadinya El Niño berada pada kisaran 50‑80 %, dengan intensitas diprediksi lemah hingga moderat. Kondisi ini diproyeksikan mempercepat datangnya musim kemarau, memperpanjang periode kering, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah gambut yang mudah mengering.

BMKG mengingatkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar masalah visual, melainkan ancaman serius bagi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Pola peningkatan hotspot pada siklus El Niño sebelumnya—misalnya pada 2015 dan 2023—menjadi acuan utama dalam menilai potensi kebakaran tahun ini.

Langkah Antisipasi Pemerintah

Untuk mengurangi dampak, pemerintah telah menyiapkan serangkaian langkah, antara lain:

  • Penguatan jaringan sensor meteorologi dan sistem peringatan dini.
  • Koordinasi lintas sektor dengan Polri, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah untuk memantau wilayah rawan.
  • Persiapan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai upaya mitigasi intensitas kemarau.
  • Penerapan protokol hemat air di rumah tangga dan industri.
  • Pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan karhutla serta prosedur evakuasi.

Selain itu, BMKG bersama kementerian terkait menggalakkan kampanye edukasi publik untuk mengurangi praktik pembakaran terbuka, terutama pada musim tanam dan pembersihan lahan.

Gambaran Regional dan Dampak Global

Di luar Indonesia, fenomena El Niño 2026 juga menimbulkan keprihatinan. Thailand mengumumkan status darurat iklim akibat “Super El Niño” yang diproyeksikan memicu suhu di atas 45 °C dan kekeringan historis. Sementara itu, Meteorological Service of Jamaica mengaktifkan Komite Manajemen Kekeringan Nasional setelah mencatat penurunan curah hujan pada awal tahun, mengingat potensi dampak serupa di kawasan Karibia.

Pengaruh El Niño terhadap pola cuaca global mencakup penurunan curah hujan di Asia Tenggara dan peningkatan suhu laut yang dapat memengaruhi intensitas badai tropis di Samudra Atlantik. Namun, dampak regional tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal, seperti topografi, penggunaan lahan, dan kesiapan institusional.

Rekomendasi untuk Masyarakat

Pakarnya menekankan langkah sederhana yang dapat diambil warga:

  • Menghemat penggunaan air, terutama pada periode puncak kemarau.
  • Memantau informasi cuaca resmi secara berkala melalui BMKG.
  • Menjauhi pembakaran sampah atau limbah pertanian secara terbuka.
  • Menjaga kebersihan lingkungan sekitar untuk mengurangi bahan bakar potensial kebakaran.

Dengan langkah tersebut, risiko kebakaran hutan dapat ditekan meski kondisi kering semakin meluas.

Kesimpulannya, El Niño 2026 diperkirakan hadir dengan intensitas moderat, namun tetap membawa ancaman signifikan berupa kekeringan berkepanjangan dan peningkatan risiko karhutla. Kolaborasi antara lembaga penelitian, badan meteorologi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak negatif serta memastikan kesiapan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.