Earth Hour 2026: Ribuan Kilowatt Hemat, Ribuan Ton CO2 Berkurang, Dari Kilang hingga Bandara dan Hotel
Earth Hour 2026: Ribuan Kilowatt Hemat, Ribuan Ton CO2 Berkurang, Dari Kilang hingga Bandara dan Hotel

Earth Hour 2026: Ribuan Kilowatt Hemat, Ribuan Ton CO2 Berkurang, Dari Kilang hingga Bandara dan Hotel

LintasWarganet.com – 30 Maret 2026 | Sabtu, 28-29 Maret 2026 menjadi saksi aksi serentak ribuan fasilitas di Indonesia menurunkan lampu selama satu jam untuk memperingati Earth Hour, gerakan global yang digalakkan WWF demi menumbuhkan kesadaran akan perubahan iklim. Di seluruh wilayah operasionalnya, PT Pertamina Patra Niaga, Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) di Palembang, serta dua hotel di bawah jaringan Santika Indonesia Hotels & Resorts, menggelar pemadaman lampu pada pukul 20.30–21.30 waktu setempat.

Pertamina Patra Niaga Catat Penghematan Signifikan

Di jaringan kilang dan kompleks perkantorannya, mulai dari Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan hingga Kasim, Pertamina Patra Niaga berhasil menurunkan konsumsi listrik sebesar 9 megawatt (MW) selama Earth Hour. Penghematan energi tersebut setara dengan pengurangan emisi karbon sekitar 6 ton CO₂ dan menghemat bahan bakar minyak lebih dari 2.000 liter. Corporate Secretary Roberth M.V. Dumatubun menekankan bahwa aksi ini bukan sekadar simbol, melainkan upaya membangun budaya hemat energi yang berkelanjutan bagi pekerja, mitra, dan keluarga.

Bandara SMB II Tetap Aman, Lampu Dimatikan

Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang turut berpartisipasi dengan mematikan lampu operasional dan fasilitas publik selama satu jam. General Manager Ahmad Syaugi Shahab menjelaskan bahwa meskipun lampu dimatikan, semua prosedur keselamatan penerbangan tetap terjaga, sehingga tidak mengganggu kelancaran operasional. Bandara berharap aksi ini dapat menginspirasi pengguna jasa dan masyarakat luas untuk mengadopsi perilaku hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.

Hotel Santika di Cirebon dan Linggarjati Bawa Suasana Temaram

Dua properti Santika, yakni Hotel Santika Premiere Linggarjati – Kuningan dan Hotel Santika Cirebon, menyiapkan suasana temaram dengan lilin dan cahaya redup selama Earth Hour. Farchani Utami, Public Relation Coordinator Linggarjati, menyatakan bahwa pemadaman lampu menjadi ajang refleksi bagi tamu untuk menikmati keheningan alam di kaki Gunung Ciremai, sementara Chicko Handoyo dari Hotel Santika Cirebon menambahkan unsur budaya lewat pertunjukan tari topeng khas Cirebon. Kedua hotel juga mendorong karyawan menggunakan transportasi ramah lingkungan pada hari tersebut.

Makna Lebih Besar di Balik Satu Jam Gelap

Earth Hour 2026 mengusung tema “Berikan Satu Jam untuk Bumi” dalam rangka merayakan dua dekade gerakan tersebut. Lebih dari sekadar mematikan lampu, aksi ini menekankan pentingnya perubahan perilaku yang konsisten. Roberth Dumatubun menegaskan bahwa langkah sederhana seperti mematikan lampu saat tidak diperlukan, menggunakan peralatan hemat energi, dan memilih transportasi publik dapat memberikan dampak kumulatif yang signifikan bagi penurunan emisi gas rumah kaca.

Berbagai sektor—energi, transportasi, perhotelan—menunjukkan komitmen konkret melalui data yang dapat diukur. Penghematan 9 MW listrik dari satu entitas industri saja dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil secara substansial, sementara bandara yang melibatkan ribuan penumpang menambah efek ripple pada kesadaran publik. Hotel-hotel yang mengintegrasikan edukasi budaya dan lingkungan memperluas jangkauan pesan, menjadikan Earth Hour bukan hanya acara tahunan melainkan katalis perubahan perilaku jangka panjang.

Dengan partisipasi luas ini, Indonesia memperkuat posisi sebagai negara yang aktif dalam agenda global pengurangan emisi. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sipil diharapkan dapat menindaklanjuti momentum ini dengan kebijakan dan program berkelanjutan, termasuk peningkatan efisiensi energi, investasi pada energi terbarukan, dan edukasi massa yang terus menerus.

Kesimpulannya, Earth Hour 2026 tidak hanya menandai satu jam kegelapan, melainkan menyalakan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga bumi melalui aksi nyata di berbagai sektor. Jika upaya serupa diteruskan secara konsisten, potensi penghematan energi dan penurunan emisi karbon akan meningkat secara eksponensial, memberikan kontribusi signifikan bagi target iklim nasional dan global.