Dokter Internship di Cianjur Dinyatakan Meninggal karena Campak, Dinkes Menunggu Hasil Laboratorium
Dokter Internship di Cianjur Dinyatakan Meninggal karena Campak, Dinkes Menunggu Hasil Laboratorium

Dokter Internship di Cianjur Dinyatakan Meninggal karena Campak, Dinkes Menunggu Hasil Laboratorium

LintasWarganet.com28 Maret 2026 | Seorang dokter intern bernama AMW, lulusan Universitas Indonesia, dilaporkan meninggal dunia di RSUD Pagelaran, Cianjur, setelah mengalami gejala demam tinggi dan ruam kulit. Menurut pihak rumah sakit, kondisi tersebut diduga terkait dengan infeksi campak, namun penyebab pasti masih belum terkonfirmasi.

AMW tengah menjalani program internship selama kurang lebih satu bulan di RSUD Pagelaran. Pada hari kejadian, ia mengeluh demam tinggi, sakit tenggorokan, dan muncul ruam merah menyebar di seluruh tubuh, gejala yang khas pada penyakit campak. Tim medis segera melakukan tindakan penanganan awal dan mengirimkan sampel darah serta swab lendir untuk analisis laboratorium.

Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur (Dinkes) menyatakan bahwa hasil laboratorium masih dalam proses verifikasi. “Kami menunggu hasil konfirmasi laboratorium untuk memastikan apakah penyebab kematian ini memang campak atau penyakit lain yang memiliki gejala serupa,” kata juru bicara Dinkes dalam konferensi pers singkat.

Sementara menunggu hasil akhir, pihak rumah sakit telah melakukan isolasi pada area tempat pasien dirawat dan meningkatkan protokol kebersihan untuk mencegah potensi penularan lebih luas. Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan vaksinasi campak secara lengkap, terutama bagi anak-anak dan tenaga kesehatan yang berisiko tinggi.

Jika hasil laboratorium mengkonfirmasi penyebab kematian sebagai campak, kasus ini akan menambah daftar insiden campak di daerah Jawa Barat yang selama ini berada di bawah pengawasan ketat karena peningkatan kasus di beberapa wilayah.

Berikut rangkaian prosedur yang biasanya diikuti dalam kasus dugaan campak pada tenaga medis:

  • Pengambilan sampel darah dan swab lendir dari pasien.
  • Pengujian PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi virus campak.
  • Isolasi pasien selama masa inkubasi untuk mencegah penularan.
  • Pemberian perawatan suportif dan vitamin A bagi pasien yang terdiagnosa.
  • Pelaporan kasus ke Dinas Kesehatan setempat untuk tindak lanjut epidemiologis.

Kasus ini menimbulkan keprihatinan di kalangan komunitas medis, mengingat dokter intern berada di garis depan pelayanan kesehatan. Dinkes menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan investigasi secara transparan dan memastikan semua prosedur keamanan kesehatan tetap dijalankan.