Dasarian I Mei 2026: BMKG Peringatkan Hujan Tinggi di NTB, Hujan Ringan di Jateng, dan Risiko Bencana di Kaltim
Dasarian I Mei 2026: BMKG Peringatkan Hujan Tinggi di NTB, Hujan Ringan di Jateng, dan Risiko Bencana di Kaltim

Dasarian I Mei 2026: BMKG Peringatkan Hujan Tinggi di NTB, Hujan Ringan di Jateng, dan Risiko Bencana di Kaltim

LintasWarganet.com – 01 Mei 2026 | Jawa Timur, 1 Mei 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca terperinci untuk dasarian I Mei 2026 (1‑10 Mei) di tiga wilayah kunci Indonesia: Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Meskipun kalender musim secara resmi telah memasuki fase kemarau, kondisi atmosferik masih dipengaruhi oleh pola global seperti Indian Ocean Dipole (IOD) yang netral, fenomena El Niño‑Southern Oscillation (ENSO) yang berpotensi beralih menjadi El Niño, serta aktivitas Madden‑Julian Oscillation (MJO) yang aktif. Kombinasi faktor‑faktor ini menghasilkan perbedaan signifikan dalam potensi curah hujan antar wilayah.

Di NTB, BMKG memperkirakan peluang hujan masih sangat tinggi. Prakirawan menunjukkan bahwa probabilitas curah hujan di atas 50 mm per dasarian mencapai antara 80 % hingga lebih dari 90 % di hampir seluruh wilayah provinsi, termasuk Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa. Lebih jauh lagi, peluang terjadinya hujan intensitas lebih dari 100 mm per dasarian berada pada kisaran 60 %‑90 % di daerah‑daerah yang sama. Data monitoring pada dasarian III April 2026 mencatat curah hujan tertinggi sebesar 277 mm di Pos Hujan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, menegaskan tren curah hujan yang masih di atas normal. BMKG menekankan bahwa frekuensi hari tanpa hujan sangat pendek, berkisar antara satu hingga lima hari, yang berarti hujan dapat terjadi hampir setiap hari selama periode awal Mei.

Berbeda dengan NTB, Jawa Tengah diprediksi akan mengalami penurunan intensitas curah hujan dan didominasi oleh kategori rendah (0‑50 mm per dasarian). Probabilitas lebih dari 60 % untuk kategori rendah tercatat di sebagian besar kabupaten, termasuk Cilacap, Brebes, dan Tegal. Namun, wilayah pegunungan tengah seperti Wonosobo dan Banjarnegara masih memiliki peluang 60‑80 % untuk curah hujan kategori menengah (51‑150 mm per dasarian). Daerah lain yang berpotensi menerima hujan sedang meliputi Purbalingga, Batang, Kendal, dan sebagian wilayah Kabupaten Semarang. BMKG menegaskan tidak ada peluang curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi pada dasarian I Mei, sehingga risiko bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah relatif rendah.

Situasi paling mengkhawatirkan muncul di Kalimantan Timur, di mana seluruh sepuluh kabupaten/kota yang dipantau diprediksi akan mengalami hujan lebat selama dasarian I Mei. Potensi hujan lebat tercatat pada periode 1‑3 Mei di wilayah Kutai Barat, Paser, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, Penajam Paser Utara, serta kota Balikpapan dan Samarinda. Pada 4‑6 Mei, intensitas hujan lebat diperkirakan berlanjut di Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu. Akhirnya, antara 7‑10 Mei, seluruh wilayah termasuk Bontang, Balikpapan, dan Samarinda kembali berada dalam zona hujan lebat. BMKG mengingatkan kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta jalan licin, dan menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat serta koordinasi dengan pihak berwenang.

Pengaruh iklim regional turut memperkuat pola cuaca ini. Indeks IOD pada dasarian menunjukkan nilai +0.012 hingga +0.023, menandakan kondisi netral yang tidak memberikan dorongan kuat ke arah kering atau basah. Sementara itu, indeks ENSO berada pada +0.57 (netral) namun diproyeksikan berpotensi beralih ke fase El Niño pada bulan Mei‑Juli 2026, yang biasanya meningkatkan intensitas hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Aktivitas MJO yang dominan dari arah timur membantu pembentukan awan hujan, khususnya di NTB, sementara suhu muka laut di perairan selatan Jawa, Bali, dan NTB lebih dingin dibandingkan daerah lain, menambah variabilitas curah hujan.

Secara keseluruhan, dasarian I Mei 2026 memperlihatkan kontras tajam antara wilayah-wilayah Indonesia. NTB tetap berada dalam zona risiko tinggi dengan potensi hujan deras yang dapat memicu banjir dan tanah longsor. Jawa Tengah, sebaliknya, memasuki fase transisi ke musim kering dengan curah hujan rendah, meski tetap ada wilayah‑wilayah pegunungan yang harus tetap waspada terhadap hujan sedang. Kalimantan Timur berada dalam kondisi paling kritis, dengan seluruh kabupaten/kota berpotensi mengalami hujan lebat dan dampak hidrometeorologi yang signifikan.

BMBMK menekankan pentingnya pemantauan terus‑menerus, penggunaan informasi prakiraan cuaca secara berkala, dan kesiapsiagaan masyarakat. Warga di daerah‑daerah berisiko tinggi diimbau untuk menyiapkan perlindungan diri, memastikan drainase tetap bersih, dan mengikuti peringatan resmi dari otoritas setempat. Dengan langkah‑langkah preventif, diharapkan dampak potensial dapat diminimalisir meskipun kondisi atmosferik masih menantang.