China Disebut Makin Penting dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati
China Disebut Makin Penting dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati

China Disebut Makin Penting dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Sekretaris Jenderal Botanic Gardens Conservation International (BGCI), Carly Cowell, menilai bahwa peran China dalam melindungi keanekaragaman hayati tumbuhan semakin krusial di tingkat global. Penilaian ini didasarkan pada serangkaian inisiatif pemerintah China serta kontribusi institusi botani negara tersebut dalam program konservasi internasional.

China telah meningkatkan jumlah kawasan lindungnya secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Hingga 2024, lebih dari 20% daratan negara tersebut berada di bawah perlindungan resmi, mencakup hutan, padang rumput, serta daerah alpin yang menjadi habitat bagi ribuan spesies endemik. Pemerintah juga mengalokasikan dana yang lebih besar untuk pengelolaan taman nasional dan cagar alam, serta memperkuat kebijakan anti-penebangan liar.

Di samping perlindungan in-situ, China menonjol dalam konservasi eks-situ melalui:

  • Pengembangan jaringan kebun raya yang tersebar di lebih dari 150 lokasi, yang berfungsi sebagai pusat penelitian, pendidikan, dan penangkaran spesies terancam.
  • Pembentukan bank benih nasional yang menyimpan jutaan sampel biji dari tanaman pangan, obat, dan hutan.
  • Kolaborasi dengan lembaga internasional seperti BGCI, WWF, dan Kew Gardens dalam pertukaran data genetik dan strategi restorasi habitat.

Namun, tantangan tetap ada. Pertumbuhan ekonomi yang cepat menimbulkan tekanan pada lahan, terutama untuk proyek infrastruktur dan pertanian intensif. Selain itu, perubahan iklim mempercepat pergeseran distribusi spesies, menuntut adaptasi strategi konservasi yang lebih dinamis.

Untuk mengatasi hal tersebut, China berkomitmen pada target-target yang diatur dalam Rencana Aksi Nasional Biodiversitas 2030, antara lain:

  1. Meningkatkan proporsi area terlindungi menjadi 30% pada tahun 2030.
  2. Mengoptimalkan jaringan kebun raya dengan standar internasional untuk pertukaran spesimen.
  3. Mengintegrasikan data biodiversitas ke dalam sistem informasi geografis (GIS) nasional untuk pemantauan real‑time.

Dengan langkah-langkah ini, China diharapkan tidak hanya memperkuat posisi domestiknya dalam pelestarian tumbuhan, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi upaya konservasi global, khususnya dalam mengatasi krisis kehilangan keanekaragaman hayati yang diprediksi akan memperburuk ketahanan pangan dan kesehatan manusia.