Bumi Saham Terpuruk di Tengah Arus Keluar Dana Asing, Namun Beberapa Emisi Tunjukkan Kekuatan
Bumi Saham Terpuruk di Tengah Arus Keluar Dana Asing, Namun Beberapa Emisi Tunjukkan Kekuatan

Bumi Saham Terpuruk di Tengah Arus Keluar Dana Asing, Namun Beberapa Emisi Tunjukkan Kekuatan

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan pada Kamis, 21 Mei 2026, ketika Indeks Bisnis-27 (IB-27) ditutup melemah 2,46% ke level 436,06. Dari 27 konstituen, hanya enam saham yang mencatat kenaikan, sementara dua puluh saham melambat dan satu saham stagnan. Di tengah penurunan ini, sejumlah emiten seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) tetap menunjukkan pertumbuhan harga, menguat masing-masing 2,49%, 2,40%, dan 1,54%.

Namun, sentimen negatif terus menggelayuti pasar karena aksi jual masif investor asing. Data Phillip Sekuritas Indonesia mencatat net foreign sell bersih sebesar Rp508,11 miliar pada sesi reguler, menambah total arus keluar kumulatif menjadi Rp51,42 triliun sejak awal tahun. Saham PT Aneka Tambang (ANTM) menjadi yang paling banyak dilepas, dengan nilai jual bersih Rp204,15 miliar, diikuti oleh BRI (Rp145,92 miliar) dan BMRI (Rp141,50 miliar). Di sisi lain, ada pula emiten yang masih menarik minat asing, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mencatat net foreign buy tertinggi sebesar Rp203,87 miliar, serta Barito Pacific (BRPT) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) yang masing-masing memperoleh pembelian bersih Rp173,34 miliar dan Rp87,71 miliar.

Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di DPR mengenai asumsi dasar makroekonomi RAPBN 2027 menambah ketidakpastian. Target defisit anggaran 1,8-2,4% PDB, pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5%, inflasi 1,5-3,5%, nilai tukar rupiah Rp16.800‑Rp17.500 per dolar, dan suku bunga SBN 10‑tahun 6,5‑7,3% menjadi bahan pertimbangan investor. Analis Phintraco Sekuritas menilai bahwa indeks IHSG kemungkinan akan berfluktuasi di kisaran support 6.200‑6.250 dan resistance 6.400‑6.450, mengingat indikator teknikal menunjukkan area oversold namun histogram MACD masih negatif.

Sementara itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% menambah beban biaya kredit, terutama bagi sektor properti. Saham-saham properti terkemuka seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) terjun ke zona merah, dengan penurunan masing-masing 4,90%, 2,22%, dan 1,99%.

Performa Saham Bumi Resources di Tengah Gejolak

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi sorotan karena mampu mencatat net foreign buy terbesar pada hari itu, meski secara umum indeks sektor pertambangan berada di bawah tekanan. Harga BUMI turun 5,20% menjadi Rp164, namun minat beli asing mengindikasikan ekspektasi atas potensi pemulihan harga komoditas, terutama batu bara dan mineral lain yang masih menjadi andalan perusahaan.

Di sektor energi, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menunjukkan perbedaan yang tajam; PGAS menguat 1,39% sementara MEDC jatuh 14,84% akibat penurunan harga energi global. Kondisi ini menambah kerumitan bagi investor yang harus menyeimbangkan antara peluang jangka pendek dan risiko jangka panjang.

Prospek ke Depan

Dengan kombinasi faktor eksternal—arus keluar dana asing, kebijakan moneter yang ketat, dan ekspektasi fiskal yang belum pasti—pasar saham Indonesia diprediksi akan tetap volatil dalam beberapa minggu ke depan. Namun, saham-saham yang masih mendapat dukungan beli asing, seperti BUMI dan BRPT, dapat menjadi indikator awal pemulihan bila sentimen global membaik. Investor disarankan untuk terus memantau data teknikal, terutama level support 6.200‑6.250 dan resistance 6.400‑6.450, serta memperhatikan kebijakan pemerintah terkait ekspor komoditas sumber daya alam yang akan dikelola oleh BUMN.

Kesimpulannya, meski indeks utama menunjukkan tren menurun dan arus keluar dana asing masih signifikan, peluang tetap ada pada emiten yang mendapat kepercayaan investor institusional asing serta pada sektor energi yang berpotensi bangkit kembali seiring perbaikan harga komoditas dunia.