Bagaimana Menentukan Niat Puasa Qadha Saat Bertepatan dengan Asyura? Panduan Lengkap dan Praktis

LintasWarganet.com – 26 Juni 2026 | Pada hari Asyura yang memiliki keutamaan tersendiri, banyak umat Islam yang ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunaikan puasa qadha Ramadan yang tertinggal. Karena puasa qadha merupakan kewajiban wajib, sedangkan puasa Asyura bersifat sunnah, penentuan niat menjadi hal krusial agar ibadah tidak melanggar hierarki hukum Islam.

Urutan Niat Puasa Qadha saat Bertepatan dengan Asyura

Jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan dan berencana berpuasa pada hari Asyura, niat utama yang harus diucapkan adalah niat puasa qadha Ramadan. Hal ini memastikan bahwa puasa yang dilaksanakan memenuhi kewajiban fardhu, sementara harapan memperoleh keberkahan Asyura dapat disertakan sebagai niat tambahan dalam hati.

  • 1. Tentukan dulu apakah Anda masih memiliki utang puasa Ramadan.
  • 2. Pada malam sebelum berpuasa, bacalah niat qadha Ramadan dengan lafaz Arab:
    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
  • 3. Setelah mengucapkan niat utama, perkuat niat dalam hati bahwa puasa tersebut bertepatan dengan hari Asyura sehingga memperoleh tambahan pahala.
  • 4. Jika tidak ada utang puasa Ramadan, niat dapat dialihkan menjadi puasa Asyura secara penuh, karena pada saat itu tidak ada kewajiban qadha yang harus dipenuhi.

Panduan Niat dalam Bahasa Arab dan Latin

Berikut ini teks niat puasa qadha Ramadan lengkap dalam tiga format yang umum dipakai:

  • Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
  • Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi shahrī Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
  • Terjemahan: “Aku berniat puasa esok hari untuk mengqadha kewajiban puasa bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”

Dengan mengucapkan niat secara jelas, pelaku ibadah menghindari keraguan mengenai status puasa yang dilakukan, terutama ketika dua ibadah bersinggungan pada hari yang sama.

Hubungan Niat Qadha Puasa dengan Niat Qodho Sholat Subuh

Konsep niat qadha dalam puasa memiliki paralel dengan niat qodho sholat Subuh, sebagaimana dijelaskan dalam literatur keagamaan. Kedua praktik menekankan pentingnya menyatakan niat sebelum melakukan ibadah yang menggantikan kewajiban yang terlewat. Pada qodho sholat Subuh, niat utama adalah menunaikan sholat fardhu yang terlewat, sedangkan niat tambahan dapat mencakup harapan mendapatkan pahala tambahan. Prinsip yang sama berlaku pada puasa qadha: niat wajib diutamakan, dan niat sunnah dapat disisipkan di dalam hati tanpa mengubah prioritas utama.

Dengan memahami pola niat ini, umat Islam dapat melaksanakan qadha secara sah dan memperoleh manfaat spiritual yang optimal, terutama ketika kesempatan keagamaan lain seperti Asyura muncul bersamaan.

Kesimpulannya, menetapkan niat puasa qadha Ramadan sebagai prioritas pada hari Asyura menjamin kepatuhan terhadap kewajiban fardhu, sementara harapan akan keutamaan Asyura tetap dapat dipegang dalam hati. Praktik ini selaras dengan pendekatan niat qodho sholat, dimana niat wajib selalu menjadi landasan utama ibadah yang diganti. Dengan mengikuti panduan langkah demi langkah di atas, umat Islam dapat berpuasa dengan keyakinan bahwa ibadah mereka sah, lengkap, dan penuh berkah.