Antisipasi kemarau datang lebih awal, ini persiapan kelompok tani di Jakbar

LintasWarganet.com – 20 April 2026 | Kelompok Tani GSG 07 yang berlokasi di Kembangan, Jakarta Barat, mulai menggelontorkan upaya konkret menyambut ancaman kemarau panjang yang diproyeksikan akan tiba lebih awal dari biasanya. Mengingat potensi penurunan curah hujan dapat mengganggu produksi sayuran dan pangan lokal, para petani mengadopsi serangkaian langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pangan dan kelangsungan mata pencaharian.

Berbagai persiapan yang telah dilaksanakan meliputi:

  • Penyimpanan air hujan: Pemasangan tangki penampungan air dengan kapasitas total lebih dari 5.000 liter untuk keperluan irigasi pada musim kering.
  • Mulsa organik: Penggunaan jerami padi dan daun kelapa sebagai lapisan penutup tanah guna mengurangi evaporasi dan menjaga kelembaban tanah.
  • Varietas tahan kering: Pemilihan bibit sayuran yang memiliki toleransi lebih tinggi terhadap kekurangan air, seperti cabai lokal dan selada air.
  • Pola tanam berkelanjutan: Rotasi tanaman dan penanaman legum untuk memperbaiki struktur tanah serta menambah nitrogen alami.
  • Pendidikan dan pelatihan: Kolaborasi dengan Dinas Pertanian Provinsi DKI Jakarta dalam workshop tentang teknik irigasi tetes dan pengelolaan sumber daya air.

Selain langkah teknis, kelompok tani juga memperkuat jaringan pasar dengan mengatur penjualan langsung kepada konsumen melalui sistem paket sayur harian. Hal ini diharapkan dapat menstabilkan pendapatan sekaligus mengurangi ketergantungan pada perantara yang sering menambah biaya.

Ketua Poktan GSG 07, Budi Santoso, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan perubahan pola pikir. “Kami belajar untuk lebih efisien dalam penggunaan air dan memaksimalkan hasil pada lahan terbatas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah, khususnya penyediaan pupuk bersubsidi dan akses kredit mikro, sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program.

Dengan langkah-langkah tersebut, kelompok tani di Kembangan berharap dapat mempertahankan produksi meski menghadapi musim kemarau yang lebih intens. Keberhasilan mereka menjadi contoh bagi komunitas petani lain di Jakarta Barat dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin tidak menentu.