Bau Memat di Ancol Memicu Kekhawatiran, Wisata Dufan Tetap Ramai Pasca Lebaran
Bau Memat di Ancol Memicu Kekhawatiran, Wisata Dufan Tetap Ramai Pasca Lebaran

Bau Memat di Ancol Memicu Kekhawatiran, Wisata Dufan Tetap Ramai Pasca Lebaran

LintasWarganet.com – 01 April 2026 | Jalan Karang Bolong Raya hingga Ancol Barat I, Jakarta Utara, kini menjadi arena dua sisi yang kontras. Di satu sisi, bau menyengat menyerupai kotoran manusia menyelimuti kawasan selokan dan kali selebar 15‑20 meter, mengganggu warga, pengendara, dan pedagang yang melintas tiap hari. Di sisi lain, setelah libur Lebaran, kawasan Ancol—terutama Dufan dan pantai Ancol—menjadi magnet wisatawan, memecahkan rekor kunjungan meski masalah lingkungan belum terselesaikan.

Bau tak sedap itu tercium paling kuat pada siang hari, bahkan menembus masker standar. Warga sekitar, seperti Erna (27 tahun), mengaku hampir setiap hari harus menahan rasa tidak nyaman saat melewati jalan itu. “Pakai masker saja tetap tercium, takutnya kena penyakit karena tiap hari lewat sini,” ungkapnya. Pedagang soto bernama Udin (49 tahun) mengakui sudah terbiasa setelah lima tahun berjualan di pinggir kali, namun mengaku banyak pembeli yang menolak duduk karena tidak tahan bau. “Orang yang baru pertama kali atau jarang melintas hampir selalu mengeluhkan bau itu,” katanya.

Para pengendara motor, contohnya Indos (38 tahun), menilai bau tersebut berasal dari limbah industri yang mengalir ke kali. Ia menambahkan bahwa intensitas bau berfluktuasi, lebih tajam saat air kali surut dan berwarna hitam keabu‑abuan. Kondisi serupa terlihat pada selokan di Jalan Ancol Barat I, yang memiliki lebar lima‑enam meter dengan air berwarna hitam sedikit berminyak. Meskipun tampak bersih dari sampah visual, bau tetap menjadi keluhan harian.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyatakan bahwa sumber bau kemungkinan besar adalah pencemaran limbah industri di sekitarnya. Namun, hingga kini belum ada tindakan konkret yang terlihat oleh publik. Warga dan pekerja setempat, seperti Refi (42 tahun), menyatakan kebal secara psikologis, namun tetap khawatir akan dampak jangka panjang bagi kesehatan pernapasan.

Sementara masalah lingkungan menimbulkan kecemasan, sektor pariwisata Ancol menunjukkan dinamika yang berbeda. Pasca Lebaran 2026, Dufan dan area pantai tetap dipadati pengunjung yang memanfaatkan “liburan belakang”. Wisatawan datang untuk menikmati wahana, pasir pantai, serta kuliner tepi laut dalam satu paket komprehensif. Menurut data internal pengelola, jumlah pengunjung melampaui ratusan ribu dalam seminggu pertama setelah Lebaran.

Pengelola Dufan juga mengumumkan rencana peningkatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, sebagai bagian dari upaya memperbaiki citra dan layanan. Meskipun rencana tersebut belum terimplementasi sepenuhnya, langkah ini diharapkan dapat menambah nilai plus bagi citra kawasan, terutama di mata wisatawan domestik dan mancanegara.

Berikut beberapa langkah yang diharapkan dapat mengurangi dampak bau sekaligus mendukung kelangsungan pariwisata di Ancol:

  • Pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah industri oleh otoritas lingkungan.
  • Peningkatan sistem pengolahan air limbah di sekitar kali dan selokan.
  • Pemasangan sistem ventilasi atau penjernih udara di titik-titik paling terpapar bau.
  • Kampanye edukasi bagi pelaku usaha dan warga tentang pentingnya kebersihan lingkungan.
  • Pengembangan area hijau penyangga untuk menyerap bau dan memperbaiki kualitas udara.

Upaya tersebut tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup warga sekitar, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata Ancol yang kini menjadi tujuan utama keluarga dan wisatawan muda. Dengan menyelesaikan masalah lingkungan, Ancol dapat mempertahankan momentum kunjungan pasca Lebaran sekaligus memastikan kesehatan publik terjaga.

Ke depannya, sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci. Jika bau memat tersebut dapat diatasi, Ancol berpotensi menjadi contoh kawasan perkotaan yang berhasil menyeimbangkan kegiatan industri, lingkungan, dan pariwisata.