ADB: Konflik di Timteng dapat turunkan pertumbuhan ekonomi di Asia
ADB: Konflik di Timteng dapat turunkan pertumbuhan ekonomi di Asia

ADB: Konflik di Timteng dapat turunkan pertumbuhan ekonomi di Asia

LintasWarganet.com – 28 Maret 2026 | Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) memperingatkan bahwa eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah dapat menurunkan laju pertumbuhan ekonomi regional di Asia pada tahun 2024 dan seterusnya. Menurut laporan terbaru ADB, ketegangan militer dan ketidakstabilan politik di negara‑negara seperti Israel, Palestina, Yaman, dan Iran dapat memicu lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasokan, serta menurunkan kepercayaan investor.

Beberapa faktor utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Kenaikan harga minyak dan gas. Konflik dapat memotong produksi dan ekspor energi, yang diproyeksikan meningkatkan harga minyak mentah dunia sebesar 5‑7 % dalam jangka pendek.
  • Gangguan perdagangan. Pelabuhan dan jalur laut utama di Laut Tengah berisiko mengalami penutupan atau penurunan volume, berdampak pada ekspor barang manufaktur dari Asia.
  • Ketidakpastian pasar keuangan. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe‑haven, menyebabkan aliran modal keluar dari pasar saham Asia.

ADB memperkirakan bahwa dampak gabungan dapat menurunkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan Asia‑Pasifik sebesar 0,2‑0,4 poin persentase dibandingkan proyeksi awal tanpa konflik. Negara‑negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi, seperti Korea Selatan, Jepang, dan India, diperkirakan akan merasakan tekanan paling besar.

Dalam menanggapi risiko tersebut, ADB menyarankan langkah‑langkah berikut:

  1. Meningkatkan diversifikasi sumber energi, termasuk investasi pada energi terbarukan dan infrastruktur LNG.
  2. Memperkuat jaringan logistik regional, khususnya jalur darat dan laut alternatif yang mengurangi ketergantungan pada Laut Tengah.
  3. Mendorong kebijakan fiskal yang fleksibel untuk menstabilkan permintaan domestik bila terjadi penurunan ekspor.

Pejabat ADB menekankan pentingnya dialog diplomatik untuk meredakan ketegangan, sekaligus menyiapkan mekanisme penanggulangan ganda antara kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Asia tetap stabil.