Cerita Keluarga Korban Penyekapan dan Penyiksaan di Bandung: Dari Izin Nonton Konser, Pindah Kerja, Sampai Masuk IGD
Cerita Keluarga Korban Penyekapan dan Penyiksaan di Bandung: Dari Izin Nonton Konser, Pindah Kerja, Sampai Masuk IGD

Cerita Keluarga Korban Penyekapan dan Penyiksaan di Bandung: Dari Izin Nonton Konser, Pindah Kerja, Sampai Masuk IGD

LintasWarganet.com – 25 Juni 2026 | Keluarga Yuvita Tri Rezeki, wanita berusia 29 tahun yang menjadi korban penyekapan dan penyiksaan di Bandung, mengungkap rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian tragis tersebut. Menurut keterangan keluarga, Yuvita awalnya meminta izin kepada suaminya untuk menonton konser musik di kota Bandung. Izin tersebut diberikan dengan harapan Yuvita dapat bersantai sejenak sebelum kembali ke pekerjaan.

Setelah konser, Yuvita memutuskan untuk mengganti pekerjaan. Ia menerima tawaran kerja baru yang menjanjikan gaji lebih tinggi dan lokasi yang lebih dekat dengan keluarga. Proses transisi tersebut berjalan lancar, hingga pada suatu malam Yuvita menghilang secara misterius setelah bertemu dengan seorang pria bernama Taufik Hidayat yang dikenal melalui media sosial.

Keluarga melaporkan kehilangan tersebut kepada pihak berwajib. Penyidikan mengungkap bahwa Yuvita telah diculik, diperkosa, dan disiksa secara brutal. Korban berhasil ditemukan dalam kondisi kritis di sebuah unit gawat darurat (IGD) rumah sakit setempat. Tim medis melakukan penanganan intensif, namun Yuvita meninggal dunia beberapa jam kemudian karena luka-luka berat yang dideritanya.

Dalam pernyataan yang diberikan kepada media, keluarga Yuvita menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap pertemuan dengan orang yang belum dikenal secara langsung, meski melalui platform digital. Mereka juga mengingatkan agar prosedur izin keluar rumah, terutama untuk wanita muda, tetap diikuti secara ketat oleh anggota keluarga.

Kasus ini menimbulkan keprihatinan luas di masyarakat Bandung. Pemerintah daerah mengumumkan penambahan patroli keamanan di area publik dan meningkatkan sosialisasi tentang bahaya pertemuan dengan orang asing. Selain itu, aparat kepolisian berjanji akan mempercepat proses penyelidikan dan menuntut pelaku dengan hukuman maksimal.

Para aktivis hak perempuan menilai kasus ini sebagai contoh kegagalan sistem perlindungan bagi perempuan yang rentan. Mereka menuntut revisi kebijakan izin keluar rumah serta peningkatan edukasi tentang keamanan digital.