Wajah Mirip Penyelundup, Mantan Preman Ini Nyaris Jadi Korban Salah Tangkapan!
Wajah Mirip Penyelundup, Mantan Preman Ini Nyaris Jadi Korban Salah Tangkapan!

Wajah Mirip Penyelundup, Mantan Preman Ini Nyaris Jadi Korban Salah Tangkapan!

LintasWarganet.com – 23 Juni 2026 | Seorang warga asal Soreang, Kabupaten Bandung, bernama Aditya Peratama Putra menjadi sorotan publik setelah sebuah video klarifikasi viral menyebutkan ia hampir menjadi korban salah tangkap karena kemiripan wajahnya dengan tersangka penyekapan yang dikenal dengan sebutan DPO Taufik Hidayat.

Latar Belakang Kasus

Penemuan identitas Taufik Hidayat, pelaku penyekapan dan penyiksaan seorang wanita berinisial YTR, memicu heboh di media sosial. Foto-foto DPO Taufik Hidayat tersebar luas, disertai sayembara berhadiah Rp250 juta yang diumumkan oleh seorang tokoh bernama Dedi Mulyadi. Dalam kerumunan foto tersebut, banyak netizen yang menyoroti kemiripan fisik antara Taufik dan seorang pria yang kebetulan muncul di sebuah rekaman video di sebuah minimarket.

Insiden di Minimarket

Pada suatu sore, Aditya Peratama Putra sedang berbelanja di sebuah minimarket di wilayah Sumsel ketika seorang warga yang mengira ia adalah Taufik Hidayat beralih menjadi agresif. Tanpa provokasi, warga tersebut melabrak dan menarik kerah baju Aditya, menganggapnya sebagai buronan. Kejadian tersebut terekam dalam video yang kemudian diunggah ke media sosial, menimbulkan perdebatan sengit mengenai identifikasi visual dan prosedur penegakan hukum.

Reaksi Publik dan Klarifikasi

Setelah video menyebar, netizen menuding bahwa pihak keamanan telah melakukan kesalahan identifikasi. Menanggapi, Aditya mengeluarkan pernyataan klarifikasi melalui akun Instagram @aditya.peratama, menegaskan bahwa ia bukanlah Taufik Hidayat. Ia juga menambahkan bahwa ia merupakan mantan pemain preman yang telah pensiun sejak 2022, dan kini menjalani kehidupan yang jauh dari dunia kriminal.

Dalam pernyataannya, Aditya menjelaskan bahwa ia menyesali masa lalunya dan kini fokus pada usaha kecil di bidang pertanian. Ia juga mengungkapkan bahwa insiden tersebut memperparah stigma sosial yang masih melekat pada mantan anggota kelompok preman, meskipun ia telah berusaha memperbaiki diri.

Analisis Hukum

Para pakar hukum menilai kasus ini menggarisbawahi pentingnya prosedur identifikasi yang tepat sebelum melakukan tindakan penangkapan atau penahanan. Menurut seorang advokat, “Kesalahan identifikasi dapat berakibat pada pelanggaran hak asasi manusia, serta menimbulkan kerugian moral dan materiil bagi korban yang tidak bersalah.”

Polisi setempat telah membuka penyelidikan internal terkait insiden tersebut. Mereka berjanji akan menindak tegas warga yang melakukan tindakan kekerasan tanpa dasar yang jelas, sekaligus meningkatkan koordinasi dengan pihak keamanan untuk menghindari kesalahan serupa di masa mendatang.

Langkah-Langkah Pencegahan

  • Penggunaan teknologi pengenalan wajah yang terverifikasi secara legal.
  • Pendidikan kepada masyarakat tentang prosedur penegakan hukum yang benar.
  • Penguatan koordinasi antara kepolisian, media, dan masyarakat dalam menyebarkan informasi tersangka.
  • Penyuluhan bagi mantan anggota geng atau preman tentang hak-hak mereka dan cara menghindari stigma.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa kecepatan penyebaran informasi di era digital dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi individu yang tidak bersalah. Identitas visual semata tidak cukup menjadi dasar penangkapan; diperlukan bukti kuat dan proses hukum yang transparan.

Semoga penyelidikan dapat menyelesaikan fakta secara adil, serta memberikan keadilan bagi Aditya Peratama Putra yang kini berusaha memperbaiki citra dirinya di tengah sorotan publik.