Kapal Induk Garibaldi: Hadiah Italia, Nama Nasional, dan Latihan Bersama Malaysia Menguatkan Kedaulatan Laut Indonesia
Kapal Induk Garibaldi: Hadiah Italia, Nama Nasional, dan Latihan Bersama Malaysia Menguatkan Kedaulatan Laut Indonesia

Kapal Induk Garibaldi: Hadiah Italia, Nama Nasional, dan Latihan Bersama Malaysia Menguatkan Kedaulatan Laut Indonesia

LintasWarganet.com – 21 Juni 2026 | Jakarta, 20 Juni 2026 – Pemerintah Indonesia semakin memperkuat kapabilitas maritimnya setelah menerima kapal induk ringan (light aircraft carrier) buatan Italia, Giuseppe Garibaldi, yang dijadwalkan tiba menjelang Hari Ulang Tahun TNI pada Oktober 2026. Hadiah strategis ini tidak hanya menambah daya serang Angkatan Laut (AL), tetapi juga memicu diskusi intens mengenai penamaan kapal, kesiapan personel, serta dampak finansial yang harus dihadapi.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, mengungkapkan beberapa opsi nama yang dipertimbangkan untuk kapal baru tersebut. Di antara nama yang diusulkan terdapat tokoh-tokoh pahlawan nasional seperti Gajah Mada dan Panglima Sudirman. “Nama belum ditentukan. Nanti kami menunggu usulan dari Presiden atau Menteri Pertahanan,” kata Ali pada konferensi pers 19 Juni 2026. Pilihan nama tersebut mencerminkan keinginan pemerintah untuk menanamkan nilai kebangsaan pada aset militer strategis.

Proses Pengiriman dan Pelatihan Awak

Setelah melewati proses legislasi di Italia, di mana sempat muncul penolakan dari kelompok oposisi sebelum Senat memberi lampu hijau, kapal Giuseppe Garibaldi kini berada dalam tahap akhir pengiriman. Kementerian Pertahanan menargetkan kapal tiba pada awal Oktober 2026, tepat sebelum perayaan HUT TNI. Untuk mengoperasikan kapal induk yang berusia sekitar 40 tahun ini, TNI AL menyiapkan sekitar 500 personel, termasuk kru navigasi, teknisi, serta pilot pesawat tempur yang akan beroperasi dari dek penerbangan kapal.

Ratusan personel terpilih akan mengikuti pelatihan intensif di Italia. Sekitar 100 orang akan berangkat pada 10 Juli 2026 untuk mengikuti program pelatihan awak kapal di pelabuhan asal Garibaldi. “Mereka dipilih berdasarkan pengalaman dan latar belakang yang relevan, kemudian akan dibentuk satuan tugas khusus untuk persiapan operasional,” jelas Laksamana Muhammad Ali. Pelatihan mencakup manuver pelayaran, operasi penerbangan, serta pemeliharaan sistem senjata dan elektronik kapal.

Kontroversi Anggaran dan Kesiapan Operasional

Sejumlah anggota DPR, termasuk TB Hasanuddin, mengkritik keputusan hibah tersebut dengan menyoroti usia kapal yang sudah mencapai empat dekade serta biaya perawatan yang tinggi. Mereka khawatir beban biaya ini dapat mengganggu alokasi anggaran pertahanan yang lebih mendesak. Selain itu, operasional kapal induk memerlukan pesawat tempur kompatibel yang saat ini belum dimiliki secara penuh oleh TNI AL, menambah tantangan logistik dan finansial.

Meski demikian, para ahli pertahanan menilai bahwa akuisisi Garibaldi memberikan peluang strategis bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan udara maritim, meningkatkan kemampuan anti‑perompakan, serta menegaskan kedaulatan di perairan Natuna dan Laut China Selatan.

Latihan Bersama TLDM: Latma Malindo Jaya 2026

Pada minggu yang sama, TNI AL bersama Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) menyelenggarakan latihan bersama yang diberi nama Latma Malindo Jaya 28 AB/26 di Koarmada II, Surabaya, dari 17 hingga 21 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin dua tahunan yang bertujuan meningkatkan interoperabilitas dan kerja sama maritim antara kedua negara.

Latihan terbagi menjadi dua fase: Harbour Phase dan Sea Phase. Pada fase darat, delegasi TLDM disambut dengan upacara resmi, kunjungan ke Monumen Nenggala, serta kegiatan kebudayaan dan olahraga bersama. Selanjutnya, fase laut melibatkan serangkaian latihan taktis, termasuk manuver formasi, penyelamatan darurat, serta latihan penembakan senjata kapal. “Latma Malindo Jaya menjadi wadah penting untuk memperkuat kemampuan bersama dalam menghadapi tantangan keamanan maritim masa depan,” ungkap Vice Admiral Dato’ Khir Junaidi bin Idris.

Latihan ini juga menjadi ajang bagi personel TNI AL yang akan menjadi bagian dari awak Giuseppe Garibaldi untuk mengasah keterampilan koordinasi lintas platform, terutama dalam operasi bersama pesawat helikopter dan kapal pendukung.

Implikasi Strategis bagi Pertahanan Laut Indonesia

Kombinasi antara penerimaan kapal induk Giuseppe Garibaldi dan latihan bersama TLDM menandai langkah signifikan Indonesia dalam memperkuat posture pertahanan maritim. Kapal induk ringan ini diharapkan dapat menjadi platform utama bagi operasi udara maritim, termasuk patroli anti‑pembajakan, penegakan kedaulatan, serta dukungan operasi kemanusiaan di wilayah kepulauan.

Dengan menyiapkan kru yang terlatih dan mengintegrasikan kapal ke dalam doktrin operasional TNI AL, pemerintah berharap dapat memaksimalkan nilai strategis kapal tersebut sekaligus mengurangi beban biaya melalui kerja sama regional. Keterlibatan Malaysia dalam latihan bersama menegaskan komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas dan keamanan Laut Jawa serta jalur pelayaran utama.

Keputusan penamaan kapal, yang masih menunggu persetujuan akhir, akan menjadi simbol kebanggaan nasional sekaligus memperkuat identitas militer Indonesia di kancah internasional. Sementara itu, proses adaptasi teknis dan logistik terus berjalan, menandai fase transisi penting dalam modernisasi angkatan laut.

Secara keseluruhan, kedatangan Giuseppe Garibaldi dan kolaborasi dengan TLDM menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi kekuatan maritim yang tangguh, siap menghadapi dinamika geopolitik di kawasan Indo‑Pasifik.