Pemilik Akun JasfireStore97 Minta Maaf atas Komentar Bernada Pelecehan kepada Wakil Ketua BEM UI
Pemilik Akun JasfireStore97 Minta Maaf atas Komentar Bernada Pelecehan kepada Wakil Ketua BEM UI

Pemilik Akun JasfireStore97 Minta Maaf atas Komentar Bernada Pelecehan kepada Wakil Ketua BEM UI

LintasWarganet.com – 20 Juni 2026 | Seorang pengguna media sosial dengan nama akun JasfireStore97 baru-baru ini mengunggah komentar yang dianggap bernada pelecehan terhadap Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Komentar tersebut memicu reaksi keras dari komunitas kampus, aktivis, serta publik netizen.

Setelah mendapat sorotan luas, pemilik akun tersebut mengeluarkan pernyataan permohonan maaf terbuka kepada Wakil Ketua BEM UI. Dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform yang sama, ia menegaskan bahwa komentar yang dibuat tidak berniat menyinggung secara pribadi, namun mengakui bahwa cara penyampaiannya tidak pantas dan melanggar etika berkomunikasi.

Berikut rangkaian peristiwa secara kronologis:

  • Hari M, pemilik akun JasfireStore97 memposting komentar yang menyudutkan Wakil Ketua BEM UI terkait kebijakan kampus.
  • Reaksi cepat muncul dari mahasiswa, dosen, dan tokoh publik yang menilai komentar tersebut mengandung unsur pelecehan.
  • Media online dan akun resmi BEM UI menyoroti insiden, menuntut pertanggungjawaban.
  • Pemilik akun kemudian menghapus komentar dan menerbitkan permohonan maaf secara terbuka.

Permohonan maaf tersebut mencakup poin-poin utama:

  1. Pengakuan kesalahan atas penggunaan bahasa yang tidak sesuai.
  2. Penyesalan atas dampak negatif yang ditimbulkan terhadap reputasi pribadi dan institusi.
  3. Janji untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi di dunia maya.

Wakil Ketua BEM UI menanggapi permohonan maaf dengan sikap terbuka, menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan langkah awal yang positif, namun menekankan pentingnya edukasi digital bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang.

Insiden ini menyoroti tantangan etika berkomunikasi di era digital, khususnya di lingkungan akademik yang sensitif. Para pengamat menilai bahwa kasus semacam ini menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk memperkuat regulasi internal terkait perilaku daring serta mengadakan pelatihan literasi media bagi mahasiswa.