Pemadaman Listrik Meluas di Jabotabek dan Solo: Warga Keluhkan, PLN dan Pemerintah Beri Penjelasan
Pemadaman Listrik Meluas di Jabotabek dan Solo: Warga Keluhkan, PLN dan Pemerintah Beri Penjelasan

Pemadaman Listrik Meluas di Jabotabek dan Solo: Warga Keluhkan, PLN dan Pemerintah Beri Penjelasan

LintasWarganet.com – 19 Juni 2026 | Pada Kamis, 18 Juni 2026, ribuan rumah tangga, pedagang, dan pelaku usaha di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Banten mengalami pemadaman listrik bergilir selama beberapa jam. Dari Solo hingga Tangerang, Depok, dan Bekasi, keluhan warga menumpuk karena tidak ada pemberitahuan resmi sebelum pemadaman terjadi, sehingga mengganggu aktivitas sehari‑hari dan menimbulkan kerugian ekonomi.

Dampak di Solo

Di Kota Solo, warga pasar Legi menjadi saksi langsung. Ali, seorang pedagang soto berusia 35 tahun, mengaku listrik di wilayahnya mulai padam sejak Rabu, 17 Juni, dan kembali mati pada hari Kamis sekitar pukul 16.30 WIB. Tanpa lampu, ia terpaksa melayani pembeli dengan senter ponsel, sementara pelanggan yang biasanya datang menurun drastis. “Kalau mati lampu seperti ini, nasib kami bagaimana? Tidak ada pengumuman, jadi kami tidak bisa menyiapkan lilin atau lampu darurat,” kata Ali. Ia menambahkan rencananya akan membawa lilin untuk mengantisipasi pemadaman selanjutnya, namun saat ini masih mengandalkan ponsel.

Kondisi di Tangerang

Di Kabupaten Tangerang, pemadaman berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, menimpa wilayah seperti Kampung Sumur Bandung (Kecamatan Jayanti) dan Kampung Gebang (Kecamatan Cikupa). Iqbal Wijaya melaporkan suhu panas membuat ketidaknyamanan semakin terasa, terutama bagi anak‑anak kecil yang tidak dapat menyalakan pendingin ruangan. Weldiansyah, yang bekerja dari rumah, kehilangan akses internet karena router mati, mengakibatkan gangguan produktivitas. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Banten menyebut penyebabnya adalah kendala teknis operasional pada pembangkit yang menurunkan kapasitas suplai listrik. Manajemen beban dilakukan secara terbatas untuk menjaga stabilitas jaringan.

Pemadaman di Depok

Jalan Margonda Raya, pusat aktivitas Depok, menjadi gelap gulita pada sore hari. Video yang beredar di media sosial menampilkan pengendara melambat karena tidak ada lampu jalan. PLN menjelaskan bahwa pemadaman disebabkan oleh pemeliharaan jaringan distribusi yang memerlukan penyesuaian operasional. Listrik kembali normal pada pukul 18.30 WIB, setelah sempat padam sejak 17.41 WIB. Petugas call center PLN mengonfirmasi bahwa proses penormalan telah selesai tepat waktu.

Pemadaman Terbatas di Bekasi

Di Kota Bekasi, pemadaman terjadi secara bertahap. Di wilayah ULP Bekasi, listrik padam sekitar pukul 10.25 WIB, sedangkan di ULP Mustikajaya mulai 11.31 WIB. Penyebabnya serupa dengan wilayah lain: kendala teknis operasional pada pembangkit yang menurunkan kapasitas suplai. Manajemen beban diterapkan untuk mencegah kerusakan lebih luas dan menjaga keandalan sistem.

Tanggapan PLN dan Pemerintah

Manajer Komunikasi PLN UID Banten, Indo Gilang Nesia, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya penanganan, termasuk pembatasan beban di wilayah‑wilayah terdampak dan percepatan pemulihan pembangkit. Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan jaminan bahwa tidak akan ada pemadaman serupa di akhir tahun. Ia mengungkapkan bahwa pasokan batu bara PLN pada 2026 diperkirakan mencapai 154 juta ton, dengan 134 juta ton sudah tersedia hingga pertengahan tahun. Kekurangan 18‑20 juta ton akan dipenuhi melalui tim khusus pengadaan batu bara yang melibatkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Inspektorat Jenderal ESDM, BPKP, hingga PLN sendiri. Bahlil menekankan pentingnya eksekusi distribusi yang tepat serta pengawasan ketat atas subsidi energi agar beban fiskal negara tidak meningkat secara signifikan.

Secara keseluruhan, pemadaman listrik pada 18 Juni 2026 mencerminkan tantangan infrastruktur energi di tengah meningkatnya permintaan. Ketiadaan pemberitahuan sebelumnya menambah beban mental dan finansial bagi warga, sementara penyebab teknis dan kebutuhan bahan bakar menjadi faktor utama yang harus diatasi secara terkoordinasi antara PLN, pemerintah pusat, dan daerah.

Ke depan, perbaikan pada sistem manajemen beban, peningkatan transparansi informasi, serta penyediaan cadangan energi alternatif dipandang sebagai langkah penting untuk mencegah kejadian serupa. Pemerintah dan PLN berkomitmen mempercepat pemulihan kapasitas pembangkit, memperkuat rantai pasok batu bara, dan meningkatkan komunikasi dengan konsumen agar kepercayaan publik dapat dipulihkan.