Starbucks Guncang Dunia: Tumbler Iri‑Iri Disney, Penutupan 2.000 Gerai di Korea, dan Kontroversi Es Berlebih di AS
Starbucks Guncang Dunia: Tumbler Iri‑Iri Disney, Penutupan 2.000 Gerai di Korea, dan Kontroversi Es Berlebih di AS

Starbucks Guncang Dunia: Tumbler Iri‑Iri Disney, Penutupan 2.000 Gerai di Korea, dan Kontroversi Es Berlebih di AS

LintasWarganet.com – 19 Juni 2026 | Starbucks kembali menjadi sorotan global setelah serangkaian peristiwa yang melibatkan kolaborasi produk, krisis reputasi, dan kritik konsumen menyebar di tiga pasar utama.

Kolaborasi Eksklusif dengan Disney: Tumbler Matcha yang Memukau

Pada 19 Juni 2026, Starbucks meluncurkan tumbler berkapasitas 24 ons hasil kolaborasi dengan Disney Parks. Desain iridescent memadukan warna hijau matcha khas Starbucks dengan aksen lavender, serta ikon-ikon Disney seperti telinga Mickey, balon, kastil, dan headband Minnie yang dicetak dalam nuansa pastel. Detail tambahan berupa logo “The Starbucks Coffee Company” berwarna hijau dan ilustrasi cangkir mini menambah kesan eksklusif tanpa mengurangi keanggunan visual.

Produk ini dijual seharga US$35 (sekitar Rp525.000) dan tersedia melalui situs resmi Starbucks serta toko Disney Store. Penjualannya diprediksi akan habis dalam hitungan menit, mengingat tren warna pastel yang tengah populer di media sosial, terutama TikTok, di mana video‑video unboxing telah menciptakan antusiasme tinggi.

Krisis di Korea Selatan: Penutupan Massal 2.000 Gerai

Berbeda dengan peluncuran yang bersifat positif, unit Starbucks di Korea Selatan menghadapi krisis reputasi setelah meluncurkan promo “Tank Day” pada 18 Mei 2026. Promo tersebut menggunakan istilah “Tank” dan tanggal 5/18, yang secara tidak sengaja mengingatkan publik pada tragedi Gwangju 1980, ketika tentara menindas demonstrasi pro‑demokrasi dengan tank. Banyak netizen menganggapnya sebagai penghinaan terhadap korban, memicu boikot dan aksi protes, termasuk penghancuran cangkir dan tumbler di beberapa gerai.

Reaksi perusahaan cepat: CEO Starbucks Korea, Son Jung‑hyun, dipecat, dan pada 22 Juni 2026, lebih dari 2.000 gerai di seluruh negeri ditutup secara serentak. Selama penutupan, seluruh karyawan diwajibkan mengikuti pelatihan sejarah modern Korea dan sensitivitas sosial. Operator lokal, Shinsegae Group, juga mengirimkan eksekutif senior ke sesi pelatihan terpisah.

Kerugian finansial diperkirakan mencapai 2,1 miliar won (sekitar US$1,4 juta atau Rp24,9 miliar). Penurunan volume transaksi tercatat menurun hingga 26% pada pekan pertama setelah kontroversi, meski sempat pulih 12,8% pada awal Juni, tetap 25% di bawah level normal pra‑krisis. Polisi setempat bahkan menginterogasi eksekutif senior terkait dugaan pelanggaran etika pemasaran.

Viralitas di Amerika Serikat: Kontroversi Rasio Es pada Venti

Di pasar Amerika, Starbucks kembali mendapat sorotan setelah sebuah video viral mengungkap rasio es‑ke‑cairan dalam ukuran Venti (24 oz). Pengujian menunjukkan bahwa hampir setengah volume minuman terisi es, meninggalkan sedikit ruang untuk kopi. Konsumen menilai hal ini sebagai contoh “shrinkflation”—praktik mengurangi volume produk tanpa menurunkan harga.

Data dari firma konsultan Technomic mencatat penurunan pangsa belanja kopi di kedai Starbucks dari 52% pada 2023 menjadi 48% pada 2025. Meskipun jumlah kedai di AS terus meningkat menjadi lebih dari 34.500, persaingan ketat dari pemain seperti Dutch Bros, Scooter’s Coffee, dan Luckin Coffee menambah tekanan. Luckin, misalnya, menawarkan ukuran 24‑ounce dengan harga sekitar US$2, menimbulkan persepsi nilai lebih bagi konsumen.

Menanggapi kritik, Starbucks menegaskan kebijakan kustomisasi yang memungkinkan pelanggan mengatur level es sesuai keinginan, namun banyak konsumen kini memilih opsi “no ice” atau meminta tambahan es terpisah, menandakan kebutuhan akan transparansi lebih jelas pada label volume.

Dampak Bisnis dan Langkah Strategis Kedepan

Ketiga peristiwa ini mencerminkan tantangan lintas pasar yang dihadapi Starbucks. Di satu sisi, kolaborasi dengan Disney menunjukkan kekuatan brand dalam menciptakan produk limited edition yang menarik demografik muda. Di sisi lain, insiden di Korea menyoroti pentingnya sensitivitas budaya dalam strategi pemasaran global, sementara kritik di AS menekankan kebutuhan untuk menjaga persepsi nilai konsumen di tengah persaingan yang semakin sengit.

Untuk memulihkan kepercayaan, Starbucks berencana menambah 25.000 kursi kafe pada musim gugur 2026, meluncurkan lebih dari 575 gerai baru dalam tiga tahun ke depan, dan menguji format toko mikro yang lebih cocok untuk area perkotaan padat. Di Asia, perusahaan mengumumkan program pelatihan budaya yang lebih intensif bagi tim pemasaran lokal, serta memperketat proses persetujuan materi promosi.

Dengan langkah-langkah tersebut, Starbucks berharap dapat menyeimbangkan inovasi produk, tanggung jawab sosial, dan kepuasan pelanggan, sehingga kembali menjadi pilihan utama di pasar kopi global.