UMKM Perkebunan Naik Kelas, Hadirkan Rompi Antipeluru Berbahan Sawit di ITTIE 2026
UMKM Perkebunan Naik Kelas, Hadirkan Rompi Antipeluru Berbahan Sawit di ITTIE 2026

UMKM Perkebunan Naik Kelas, Hadirkan Rompi Antipeluru Berbahan Sawit di ITTIE 2026

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | BPDP (Badan Pengembangan Perkebunan Daerah) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan daya saing UMKM perkebunan dengan meluncurkan produk inovatif berupa rompi antipeluru yang terbuat dari serat kelapa sawit. Produk tersebut pertama kali dipamerkan pada International Trade and Technology Expo Indonesia (ITTIE) 2026 yang digelar di Surabaya.

Rompi antipeluru berbahan sawit ini dirancang khusus untuk melindungi pekerja di sektor perkebunan dan agribisnis yang sering berhadapan dengan bahaya mekanis atau balistik ringan. Bahan baku serat sawit yang diproses secara teknologi tinggi memberikan kekuatan tarik yang setara dengan bahan sintetik konvensional, namun dengan keunggulan ramah lingkungan dan biaya produksi yang lebih rendah.

  • Keamanan: Lapisan serat komposit mampu menyerap energi tumbukan hingga 30 % lebih baik dibandingkan kain kevlar standar.
  • Keberlanjutan: Menggunakan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku utama mengurangi limbah pertanian hingga 15 %.
  • Kenyamanan: Desain ergonomis dan ventilasi alami membuat pemakai tetap sejuk di iklim tropis.
  • Ekonomis: Harga jual diperkirakan 20 % lebih murah daripada rompi antipeluru impor.

Di ITTIE 2026, booth BPDP menampilkan tidak hanya rompi tersebut, melainkan juga rangkaian produk turunan seperti tas kerja berbahan serat sawit dan pelindung lutut. Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan secara langsung melalui demo miniatur, serta berkesempatan menguji ketahanan material pada arena simulasi.

Pihak penyelenggara ITTTE 2026 menyatakan bahwa hadirnya inovasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara produsen bahan baku agrikultur yang dapat bersaing dalam industri pertahanan ringan. Selain meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pengrajin, proyek ini diharapkan membuka lapangan kerja baru di bidang pengolahan serat alam.

BPDP menargetkan distribusi rompi antipeluru ke seluruh wilayah perkebunan utama, termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, pada kuartal berikutnya. Dukungan dari pemerintah pusat dan swasta diharapkan dapat mempercepat proses sertifikasi serta penjualan massal.